USAHA

Yudha Triyanto : Memilah Sampah, Menuai Emas

Maas | Jumat, 03 Mei 2019 - 17:56:14 WIB |

PEMULUNG bisa memiliki emas itu bukan tidak mungkin. Melalui Bank Sampah Dream milik Yudha Triyanto para pemulung di Kota Jambi, bisa memiliki emas. Setiap sampah yang dijual para pemulung, dibelinya, dan para pemulung diminta untuk menabung, untuk kemudian uang hasil tabungan itu ditukarkan dengan emas.

 “Kami sudah bekerjasama dengan PT Pegadaian, membangun kerja sama tabungan sampah untuk ditukarkan dengan emas.”Peminatnya banyak. Mereka senang bisa memiliki emas hanya dari memilah sampah,” ungkap

Yudha ketika ditemui Media Jambi di kediamanannya yang sekaligus tempat pemilahan sampah di Kelurahan Wijaya Pura Jambi Selatan, Sabtu, 27 April lalu.

Caranya, sampah yang dibawa pemulung dihargai perkilonya dan uang hasil penjualan langsung ditabung secara tercatat di buku tabungan yang sudah disediakan. “Uang tabungan yang terkumpul itulah kemudian ditukar dengan emas batangan di Pengadaian  sesuai harga emas saat itu,” jelasnya.

Aktifitas membeli sampah dilakukan di halaman rumah miliknya. Disana terlihat tumpukan tumpukan sampah yang dipilah berdasarkan jenis, bahkan di dalam rumahnya juga terlihat tumpukan buku buku bekas yang sudah dilepas dari sampulnya. Selain dibantu isteri dan orang tuanya, Yudha juga mempekerjakan sebanyak 4 orang karyawan.

Sampah berupa kantong belanja, tali rafia bekas, dan karung plastic yang rusak dilebur bersama limbah pasir, minyak jelantah, dan oli bekas untuk kemudian dijadikan konblok. Menurutnya, potensi menjadikan sampah sebagai bahan baku bangunan itu sangat besar, sekaligus menjaga kebersihan lingkungan.

Saat ini, produk sampah di Kota Jambi sebanyak 1.552 meter kubik per hari. Dari jumlah itu, baru 62 meter kubik saja yang dikelola lewat program bank sampah, dan 1.202 Meter kubik lainnya mengalir ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Talang Gulo. “Artinya, potensi mengelola sampah masih banyak, karena masih ada 22,6 persen sampah belum tertangani,” paparnya.

Usaha mengelola sampah dilakukan sejak tahun 2016, setelah belajar dari teman- temannya di Jakarta, bagaimana memilah sampah, apa hukumnya memilah sampah serta bagaimana memasarkannya, hingga dengan ilmu itu dia mencoba mempraktekannya di Jambi. “Awalnya sampah itu saya ambil dari lingkungan di sekitar rumah, kemudian meluas ke lingkungan lain, hingga ke kelurahan sampai akhir saya mendapat SK dari kelurahan Wijaya Pura untuk membuka bank sampah,” papar Alumni Sarjana Ilmu Pemerintahan Universitas Muhammadiyah Jogjakarta.

 “ Sampah yang ditampung disini hanya sampah plastik,kertas dan kita tidak menerima sampah kaca,karet dan sampah limbah rumah tangga,” jelas Yudha. Atas usahanya itu, mereka mendapat bantuan dana CSR dari Kantor DLH Kota, karena termasuk yang terbaik untuk pengolahan  sampahnya.

Saat ini mereka bisa membeli hingga 10 ton sampah per bulan. Jenis - jenis harga dari sampah plastik seperti botol plastik perkilonya Rp 3.000 sedangkan untuk botol kecap Rp. 1.500, botol bekas shampo Rp. 2.000, kardus dan kertas Rp. 2.500 perkilonya.(yen)

 










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)