Senin, 02 Maret 2015 - 14:00:04 WIB
Menelusuri Terisoliran Desa Air Liki
Diposting oleh : Ir Fitriani Ulinda
Kategori: Daerah - Dibaca: 3210 kali

Media Jambi.com - Desa Air Liki merupakan daerah terisolir di Kabupaten Merangin. Butuh perjuangan dan kerja keras untuk sampai ke desa tersebut. Karena selain lokasi yang sulit dijangkau juga kondisi infrastruktur belum memadai. Dampak dari keterisoliran ini mengakibatkan harga-harga kebutuhan pokok meningkat dua kali lipat. Contoh harga bensin mencapai Rp20 ribu/liter, gas 3 kg Rp 35 ribu, minyak goreng Rp 18 ribu/kg, gula pasir Rp 20 ribu/kg.

Untuk sampai ke Desa Air Liki, Kecamatan Barat, Kabupaten Merangin harus menggunakan kendaraan dobel kabin sampai ke Desa Ngaul. Karena kondisi jalan licin dan berlumpur. Jalan membelah perbukitan yang berliku mendaki dan menurun, dibutuhkan waktu sekitar tiga jam perjalanan dengan biaya Rp50 ribu/penumpang.  Hanya ada dua kali dalam seminggu ada angkutan untuk sampai ke Sungai Manau.

Selanjutnya dari Desa Ngaul menuju Dusun Batu Gembung harus menyusuri Sungai Tabir menantang arus yang sangat deras dan tak jarang mesin ketek (parahu motor) mati ditengah jalan terkadang menabrak bebatuan yang ada disepanjang aliran sungai . Perjalanan menggunakan perahu motor, butuh waktu sekitar dua jam.

"Kalau mudik lambat karena menantang arus, tapi ke hilir paling lambat satu jam sampai," ujar Syaful ketua pengemudi perahu motor yang juga pelopor berdirinya perahu motor di Dusun Batu Gembung, kepada Media Jambi, Sabtu (23/1) lalu.

Dikatakannya perahu motor biasanya hanya berpenumpang dua orang. Dibutuhkan keahlian khusus untuk mengemudi perahu motor, karena jika salah-salah maka akan menabrak bebatuan yang ada dipinggiran sungai. Tak jarang perahu kandas, karena menabrak bebatuan. Dengan ongkos juga Rp50 ribu/penumpang. “Kalau cateran biayanya Rp600 ribu/perahu,” ucapnya.

Selanjutnya setelah sampai di Batu Gembung naik ojek menelusuri jalan setapak melalui perkebunan dan hutan produksi (HP) jalannya menyisiri jurang perbukitan selama satu jam dengan ongkos Rp30 ribu. Salah-salah bisa masuk jurang, banyak pengendara yang terjun kejurang karena kurang hati-hati.

“Sebenarnya jalannya tidak jauh hanya berkisar enam kilometer, tapi kondisi jalan setapak naik turun dan sempit, sehingga kendaraan tidak bisa dipacu," jelas Syaiful.

Kades air liki Nasrul mengatakan kondisi infrastruktur yang sulit dijangkau. Masyarakat sudah merindukan pemimpin datang ke desa air liki yang terpencil dan sulit dilalui. Jumlah penduduk 1.200 jiwa luas desa 26 hektar bahkan ada warga belum pernah melihat kota karena transportasi yang rusak. Jarak dari air liki ke kota bangko berjarak 73 km.

 "Kami minta kepada pemerintah membuka akses jalan sehingga akses perekonomian meningkat. Banyak fasilitas tidak memadai seperti kekurangan guru, puskesmas, dan sekolah banyak yg rusak," ujarnya. Sampai saat ini warga juga ada yg belum melihat kendaraan roda empat.

Untuk penerangan menggunakan PLTMH yang digerakan air. Dibangun dengan program PNPM mandiri dan sudah bisa dinikamti masyarakat. Dijelaskannya mata pencaharian masyarakat umumnya petani yaitu bersawah dan berkebun. Warga tidak membeli beras karena warga umummnya memiliki lahan sawh yang cukup untuk memenuhi kebutuhan sendiri. "Bersawah disini dilakukan setahun sekali," ucapnya. Bupati merangin sudah berniat tapi tidak sampai tapi baru saat ini bisa sampai disni. Hanya air liki yang beru pertama sekali dikunjungi. Air liki jauh dari jangkauan, kondisi jalan memang berat, namun pemerintah akan berupaya membangun infrastruktur jalan.

Menurutnya, jalan akan dibangun menggunakan TNI manunggal masuk desa. Akan dihitung biaya pembangunan jalan dari bangko hingga ke air liki. "Mengenai pembangunan fasilitas akan secepatnya dibantu," ujarnya.

Mengenai desa-desa terpencil akan dibina degn baik, dia mengharapkan swah jangan sampai ditinggalkan. Jangan dirusak dan dipertahankan jangan sampai rusak karena peti. "Saya malu melihat sepanjang jalan dari sungai manau hingga ke ngaul banyak sekali lubang-lubang perti," ujarnya.

Dijelaskannya ke depan pemerintah telah memprogramkan pencetakan sawah baru dan memberi bantuan pengelolaan sawah.

Gubernur jambi H hasan basri agus mengaku sangat menikmati perjalanan yang cukup jauh dan sulit dilalui. "Kunjungan ke desa-desa adalah suatu program untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat dan meningkatkan akses ekonomi," ujarnya.

Dikatakannya untuk meningkatkan infrastruktur jalan pihaknya akan membangun secara bertahap. Dia melihat warga desa air liki sudah makmur. Listrik sudah ada dan air tidak beli. "Saya mendukung program bupati merangin meningkatkan kesejahteraan masyarakat," ujarnya.

Pemimpin harus kreatif dan merangin akan lebih maju, bukan hanya rutinitas. Untuk membangun jalan akan menggunakan TMMD. "Pemberian gelar adt merupakan semangat bagi seorang pemimpin meningkatkan kesejahteraan masyarakat," ujarnya.(mas)