Selasa, 01 November 2016 - 19:40:50 WIB
Cabe Merah Sumbang Inflasi Terbesar di Jambi
Diposting oleh : Ir Fitriani Ulinda
Kategori: Eko/Bisnis - Dibaca: 269 kali

Mediajambi.com - Cabe merah menjadi komoditi penyumbang inflasi terbesar di Kota Jambi selama bulan Oktober 2016. Pasalnya harga cabe merah sempat mencapai angka Rp80 ribu per kilogramnya. Sehingga menjadi penyumbang inflasi sebesar 0,95 persen dari total angka inflasi Kota Jambi 1,19 persen.

Kepala BPS Provinsi Jambi Dadang Hardiwan mengatakan Kota Jambi bulan Oktober 2016 mengalami inflasi sebesar 1,19 persen dengan indak harga konsumen (IHK) 126,13 persen. ”Inflasi terjadi pada empat kelompok pengeluaran barang dan jasa,” ujarnya kepada sejumlah wartawan, Selasa 1 November 2016.

Empat kelompok pengeluaran yang mengalami kenaikan yaitu bahan makanan 4,21 persen, makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau 0,40 persen, perumahan, listrik, air dan gas 0,72 persen dan kesehatan 1,38 persen. ”Tiga kelompok yang menyumbang deflasi  yaitu sandang 0,23 persen, pendidikan, rekreasi dan olahraga 0,03 dan tranportasi, komunikasi dan jasa keuangan 0,45 persen. Walau tiga kelompok mengalami deflasi tapi tidak bisa menggerek angka inflasi yang disumbangkan bahan makanan,” ujarnya.

Dijelaskannya, inflasi tahun kalender bulan ini mencapai 3,65 persen, dan inflasi tahun ke tahun sebesar 5,09 persen. Dari 23 kota di Sumatera Kota Jambi menempati urutan kedua inflasi tertinggi di bawah Sibolga 1,32 persen.

“Harga cabe merah dalam bulan Oktober mengalami fluktuasi, bahkan mencapai angka Rp 80 ribu/kg. Hingga saat ini belum normal ditingkat pedagang pengecer masih tinggi yaitu Rp52 ribu/kg,” ujar Zaini pejabat Dinas Perindag Provinsi Jambi yang memantau harga-harga komoditi setiap harinya. 

Naiknya harga komoditi cabe merah ini menurutnya disebabkan berkurangnya pasokan dari sentra cabe. Baik lokal maupun luar daerah. “Sebagian besar cabe merah berasal dari luar provinsi, seperti dari Sumatera Barat, Lampung dan pulau Jawa,” ucapnya.

Informasi dari distributor saat ini daerah sentra-sentra cabe merah mengalami hujan. Sehingga tanaman rusak dan tidak berbuah secara norma dan berpengaruh terhadap produksi. ”Cabe merah tidak bisa diintervensi, seperti komoditi lain karena barang mudah rusak,” ungkap Zaini.(mas)