Jumat, 04 November 2016 - 10:00:32 WIB
Karti : Beli Rumah Dari Jamu Gendong
Diposting oleh : Ir Fitriani Ulinda
Kategori: Usaha - Dibaca: 582 kali

Mediajambi.com - Apapun pekerjaan asalkan ditekuni dan dilakukan secara sungguh-sungguh pasti berhasil. Itulah yang dilakoni Karti (45) penjual jamu gendong sejak 28 tahun lalu.

Warga Rt 11, Kelurahan Tambak Sari, Kecamatan Jambi Selatan Kota Jambi mengaku pertama kali berjualan jamu di Kota Jambi tahun 1988 lalu dan berlanjut hingga saat ini. “Saya merantau ke Jambi tahun 1988. Orang tua saya juga penjual jamu, jadi meneruskan tradisi,” ujarnya saat   mengikuti stand bazar yang dilakukan Alisa Khadijah-ICMI Wilayah Jambi.

Wanita asal Solo Jawa Tengah ini mengaku hasil dari puluhan tahun menjual jamu bukan hanya sekadar menambah penghasilan keluarga tapi bisa membeli satu unit rumah permanen. Sebenarnya penghasilan tidak terlalu besar dalam sehari dia bisa menjual 12 botol jamu, tapi penghasilan itu dikumpulkan. “Alhamdulillah bisa punya rumah sendiri, walaupun kecil dan tidak ngontrak lagi,” ungkapnya.

Dikatakanya, harga jual jamu segelas sebesar Rp3.000 sedangkan jika pakai telur Rp6.000/gelas. Selanjutnya bahan-bahan pembuatan jamu diolah dan diracik sendiri. Pasalnya dia sejak belia telah mengenal jamu dari orang tuanya. Jadi kata dia bahan-bahan jamu higienis dan tidak ada campuran zat kimia. “Semua bahan alami, sesuai dengan tradisi leluhur, jadi tidak ada efek samping setelah mengkonsumsi jamu,” ucapnya.

Dijelaskannya, bahan-bahan yang digunakan untuk membuat jamu berupa kunyit, kencur, jahe, brotowali dan lain-lainnya. Bahan-bahan tersebut dipercaya sejak dulu memiliki kasiat. Seperti jamu beras kencur berguna untuk menambah napsu makan, kunyit bisa melancarkan peredaran darah, jamu pahit bisa menurunkan kolestrol dan jahe bisa mengobati masuk angin.

Sedangkan bahan-bahan untuk pembuatan jamu di pasar-pasar tradisonal Kota Jambi cukup banyak tersedia. Tinggal cara mengolahnya, sehingga pelanggan tertarik untuk minum jamu.

Mengenai banyaknya saingan wanita satu orang anak ini mengaku sudah punya langgana tetap. “Jadi soal rezeki harus optimis karena diatur Allah SWT. Walau banyak saingan penghasilannya tidak berkurang, yang terpenting usaha dan doa,” ungkap dia.

Wanita yang baru satu tahun bergabung dibawah binaan Alisa Khadijah - ICMI Wilayah Jambi ini mengatakan sejak mulai jualan hingga saat ini belum pernah mendapat pelatihan maupun bantuan. Namun sosialisasi perecikan jamu yang higienis telah beberapa kali. “Saya selaku pribadi mengucapkan terima kasih kepada pengurus Alisa Khadijah -ICMI wilayah Jambi yang telah besedia memfaslitasi, sehingga bisa membuka stand, dan memperkenalkan jamu racikannya kepada khalayak ramai. Mudah-mudahan pelanggan saya tambah banyak,” ungkapnya.

Dia berharap kepada pemerintah, khususnya instansi terkait bukan hanya memberi sosialisasi. Tapi bagaimana upaya meningkatkan mutu dan kualitas perajin jamu gendong, baik berupa pinjaman lunak maupun pelatihan. “Maaf saat ini, sebagian penjual jamu telah mengunakan kendaraan bermotor keliling kampung, menemui konsumennya. Hanya sebagian kecil yang masih menggendong,” ujanya.

Fauzan Azima yang baru pertama kali mencicipi jamu racikan Karti mengaku rasa jamu berbeda dengan jamu gendong lainnya. “Itulah sebabnya dia (Karti-red) bisa bertahan jualan jamu hingga saat ini,” ujarnya.

Sehingga kata dia pelanggan akan ketagihan, dan jika tidak minum jamu ada yang kurang dalam diri. “Saya sendiri juga penggemar jamu gendong, jadi tahu selera konsumen,” ucap Fauzan yang juga staf Humas dan Protokol Setda Provinsi Jambi ini.

Minum jamu racikan tradisional, kata Fauzan tidak ada efek samping. Berbeda dengan jamu yang dibuat pabrik mengandung zat kimia memiliki efek samping. “Untuk menjaga stamina saya mengkonsumsi jamu tadisional setiap harinya,” jelas Fauzan.(mas)