Selasa, 07 Maret 2017 - 11:35:41 WIB
Harga Cabe Merah di Kota Jambi Anjlok
Diposting oleh : Ir Fitriani Ulinda
Kategori: Pertanian - Dibaca: 283 kali

Mediajambi.com - Harga komoditi cabe merah di Kota Jambi anjlok. Hal ini disebabkan melimpahnya pasokan baik lokal maupun luar daerah. Ditingkat pengecer harga cabe merah turun sebesar Rp12.000/kg  dari Rp34.000/kg menjadi Rp22.000/kg hari ini.

Pantauan dibeberapa pasar tradisional seperti Pasar Angso Duo, Talang Banjar dan Simpang pulai terjadi penurunan harga sebesar Rp12.000/kg. Di Pasar Angso duo pedagang menjual cabe merah seharga Rp22.000/kg sedangkan di Pasar Talang Banjar dan Simpang Pulai seharga Rp24.000/kg. “Berdasar hasil pantauan kami, kemarin harga cabe merah di Angso Duo Rp34.000/kg dan di Pasar Talang Banjar dan Simpang Pulai Rp36.000/kg,” ujar Kasi Perdagangan Dalam Negeri Disperindag Provinsi Jambi , Melahani, Selasa (7/3/2017).

Menurutnya, turunnya harga cabe merah ini disebabkan melimpahnya pasokan baik cabe lokal maupun yang berasal dari luar Provinsi Jambi.

Selain itu komoditi bawang putih mengalami juga penurunan harga dari Rp36.000 menjadi Rp34.000 atau sebesar Rp.2.000 yang disebabkan bertambahnya pasokan. Sedangkan komoditi sembako lainnya tidak mengalami kenaikan. “Komoditi lain harga masih stabil, karena pasokan mencukupi,” ujar Melahani.

Suryani (36) pedagang pengecera cabe merah di Pasar Simpang Pulai mengakui dalam beberapa pekan belakangan ini harga cabe merah cenderung turun. Biasanya harga cabe tak kurang dari Rp40.000/kg. “Ini mungkin disebabkan melimpahnya pasokan dari luar Provinsi Jambi. Seperti dari Pulau Jawa, Lampung, Sumbar dan Lubuk Linggau,” ujarnya.

Menurut informasi yang diperolehnya, di daerah sentra cabe saat ini tengah panen raya. Hal ini sudah menjadi kebiasaan bila barang berlimpah maka harga cenderung turun. “Inilah hukum ekonomi,” ucapnya.

Namun demikian, kata dia pedagang pengecer juga tidak berani membeli stok banyak. Pasalnya komoditi cabe bukanlah barang tahan lama, apalagi cabe yang dipasok dari pulau Jawa banyak yang busuk dalam perjalanan. “Kita juga tak mau ambil resiko, jadi walau stok di agen banyak tetapa disesuaikan dengan kondisi pasar,” ungkapnya.(mas)