Jumat, 17 April 2015 - 21:02:28 WIB
Petani Muhajirin Kewalahan Penuhi Permintaan Sit Angin
Diposting oleh : Ir Fitriani Ulinda
Kategori: Pertanian - Dibaca: 5786 kali

Media Jambi.com - Petani di Desa Muhajirin Kecamatan Jambi Luar Kota Kabupaten Muarojambi kewalahan memenuhi permintaan karet jenis sit angin dari berbagai perusahaan. Karena produksi yang dihasilkan masih terbatas, karena banyak petani yang belum mau merubah kebiasaan merubah pola produksi, dari bokar biasa menjadi sit angin.

Padahal, lembaran karet hasil bekuan lateks yang sudah digiling dan dikeringkan itu memiliki harga cukup tinggi, yaitu Rp 25.000 perkilogram. Jauh dibandingkan harga Bokar di tingkat petani yang hanya Rp 5.000 perkilogram untuk bokar kotor dan Rp 8.000/kg bokar bersih.

Pantauan Media Jambi.com di Desa Muhajirin, Kamis, petani yang serius memproduksi sit angin itu berasal dari Unit Pengolahan dan Pemasaran Bersama (UPPB) Sejahtera Bersama. Menurut Ketua UPPB Sejahtera Bersama, Sarjito (61) saat ini permintaan sit angin cukup banyak.

“Ada permintaan hingga 20 ton perbulan dari Tanggerang dan Medan, namun semua itu belum dipenuhi karena kemampuan petani memproduksinya terbatas,” jelasnya. Selama ini sit angin yang mereka produksi dijual ke pabrik di Sarolangun, sekitar 170 kilometer dari Desa Muhajirin dengan harga Rp 25.000 perkilogram.

Selain di kirim ke pabrik sit angin di Sarolangun, permintaan dari daerah lain juga terus masuk. “Kita sudah kirim sample ke perusahaan di Tanggerang, dan kualitasnya dinilai baik dan bisa diekspor dengan harga bisa diatas Rp 35.000 perkg,” ungkapnya. Apalagi sit angin yang mereka hasilkan sudah masuk dalam kategori Ribbed Smoked Sheet (RSS) 1 atau sit asap.

Namun diakuinya, mereka belum mampu memenuhi kuota untuk ekspor, selain produksi yang terbatas, kualitas yang dihasilkan belum sepenuhnya memenuhi standar. Menurut Sarjito, dari 26 anggota masih sebagian kecil saja yang mau membuat bokar jenis sit angin.

“Kebanyakan membuat bokar biasa atau lum yang bisa langsung dijual, karena mereka butuh dana untuk kebutuhan sehari-harinya,” katanya.

Untuk memancing agar petani mau merubah pola produksinya itu, dibutuhkan adanya dana talangan melalui koperasi. “Karena, petani butuh dananya setiap waktu, sedangkan untuk penjualan sit angin dilakukan seminggu sekali, sehingga butuh dana untuk menalanginya,” katanya.

Diakui proses pembuatan sit angin, membutuhkan waktu yang lebih ketimbang memproduksi lum atau slab. Menurut Kepala Bidang Pengolahan Hasil Pertanian (PPHP) Dinas Perkebunan Provinsi Jambi, Ir Putri Rainun, pihaknya terus mendorong petani untuk melakukan diversifikasi bokarnya, dan membuat bokar dalam bentuk sit angin merupakan salah satu jalan yang harus dilakukan petani untuk meningkatkan pendapatannya.

“Ditengah harga yang terus turun ini, karena banyaknya bahan baku di pasar dunia, perlu dilakukan difersivikasi produk diantaranya membuat sit angin,” katanya. Karena harga sit angin jauh lebih tinggi, ketimbang bokar biasa, dan pemasaran saat ini cukup luas. (lin)