Selasa, 07 November 2017 - 10:17:48 WIB
Pelito : Saya Cuma Ingin Pintar Seperti Orang Lain
Diposting oleh : Ir Fitriani Ulinda
Kategori: Daerah - Dibaca: 142 kali

Mediajambi.com - Pelito (19) tahun, anak lelaki dari Temenggung Jenong SAD Bukit 12 Kecamatan Batin XXIV Kabupaten Batanghari, didenda sanksi adat kaumnya dengan 16 lembar kain panjang dan denda uang sebanyak Rp600 ribu. Hal ini karena ingin maju dan pintar dan terpaksa meninggalkan komunitas kelompoknya untuk menimba ilmu.

Ketika dikonfirmasi Mediajambi.com, Senin ( 06/11/2017) di Diskominfo Batanghari, Pelito yang nama Islamnya Muhammad Fajri ini, mengatakan bahwa keinginannya untuk maju setelah ikut perkumpulan masyarakat sekaligus mengikuti kegiatan masyarakat tersebut.

" Pada awalnya, saya sering mengikuti perkumpulan masyarakat dan mengikuti kegiatan mereka. Dari situlah timbul rasa ingin tahu untuk hidup lebih baik seperti masyarakat pada umumnya," ungkap Pelito.

Akibat dari keinginannya tersebut, dirinya mendapat sangsi adat dari SAD Bukit 12 dengan denda kain dan uang.

" Bapak saya Temenggung Jenong sudah membayar denda tersebut" ujar putra pertama dari Temenggung Jenong dan Ngalut ini.

Dikatakannya pula, keluar dari SAD sejak tahun 2013 silam, sejak itu pula dirinya memeluk agama islam dan hidup denga masyarakat dikecatan bathin. dan tinggal dirumah dinas camat setempat.

Dalam kesehariannya, dirinya pernah menjadi santri dipondok pesantren di Sungai Gelam Muara Jambi tahun 2014 dulu, namun tidak berlangsung lama dan terpaksa putus karena keterbatasan dana.

" Saya sempat belajar. Namun putus di tengah jalan karena tak ada dana lagi. Selama ini masyarakat Batin XXIV yang swadaya untuk biaya saya belajar" katanya lagi.

Dikatakannya pula, keinginan untuk dapat memberikan pendidikan kepada masyaraat SAD diwilayahnya merupakan impian terbesar bahinya, namun hal tersebut diakuinnya masih banyak keterbatasan kemampuan.

" Umtuk sekolah dulu sudah sempat di masukan lurah melalui panti sosial untuk sekolah. namun hingga saat ini belum ada tanggapan," ujarnya

Di sisi lain, dirinya juga mengkritisi kerja Warsi, terutama dalam melakukan pendidikan dan pengajaran bagi anak anak SAD yang dinilai kurang baik dan kesannya setengah hati.

" Bagaimana kami mau pintar? Mereka ngajar datang sekali sebulan. Andaikata saya pintar, saya berkeinginan mengajari saudara-saudara biar jadi pintar" pungkas Pelito alias M Fajri ini (suta)