Rabu, 07 Maret 2018 - 13:33:53 WIB
Nilai Tukar Petani Provinsi Jambi Turun
Diposting oleh : Ir Fitriani Ulinda
Kategori: Pertanian - Dibaca: 116 kali

Mediajambi.com - Nilai tukar petani (NTP) Provinsi Jambi bulan Februari mengalami penurunan 0,27 poin dari 102,25 menjadi 101,98.

Kepala BPS Provinsi Jambi Dadang Hardiwan dijelaskannya NTP sub sektor tanaman pangan naik dari 97,79 menjadi 98,71. Hortikultura turun dari 93,60 menjadi 93,31 persen. Tanaman perkebunan rakyat turun dari 107,77 menjadi 106,81. Peternakan 98,12 menjadi 98,34, dan perikanan juga mengalami kenaikan dari 101,44 menjadi 102,73.

Berdasarkan pantauan harga harga pedesaan terjadi inflasi sebesar 0,06 persen. Makanan jadi, minuman dan rokok 0,10 persen, perumahan 0,25 persen, sandang 0,09 persen, kesehatan 0,19 persen, dan komunikasi, transpotasi 0,07 persen.

"Kelompok bahan makanan 0,07 persen dan kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga tidak mengalami perubahan," ujar Dadang.

Pengamat pertanian Fakultas Peranian Unja DR Dompak Napitupulu mengatakan ada tiga sub sektor pada bulan Februari NTP yang belum mencapai angka 100 yaitu hortikultura, tanaman pangan dan peternakan. "Masih rendahnya NTP ini disebabkan daya tawar petani sangat lemah. Petani tidak memiliki daya tawar karena kualitas produk yang dihasilkan dibawah standar," ujarnya.

Dia melihat permasalahan yang terjadi dilapangan petani masih menjual hasil tani kepada pedagang pengumpul yang ada di lokasi. Hanya sebagian kecil yang mau menjual produk langsung ke pasar. "Contoh petani sayur yang ada diseputaran Kota Jambi, mana ada yang menjual sayurnya  ke Pasar Angsoduo misalnya. Tapi lebih cenderung menjual kepada pedagang pengumpul yang datang kelokasi," ujarnya.

Mengenai harga jual ditentukan pedagang pengumpul dan petani tidak memiliki daya tawar sama sekali. Walaupun harga sayur di asar naik, tapi ditingkat petani tidak mengalami perubahan. Petani umumnya enggan menjual sendiri ke pasar dengan alasan repot.

Untuk itu dia berharap perhatian dari pemerintah, masalah yang dihadapi petani selain masalah harga juga sulitnya mendapatkan pupuk bersubsidi dan bibit unggul.(mas)