Kamis, 05 April 2018 - 14:12:15 WIB
Seluas 63.115 hektar Kebun Sawit Tua Segera Diremajakan
Diposting oleh : Ir Fitriani Ulinda
Kategori: Pertanian - Dibaca: 174 kali

Mediajambi.com - Seluas 63.115 hektar kebun kelapa sawit tua di Provinsi Jambi segera diremajakan. Sedangkan untuk tahun 2018 akan diremajakan 20.058 hektar. Hal ini terungkap pada sosialisasi peremajaan sawit rakyat tahun 2018 bertempat di Swisbelhotel, Kamis (5/4/2018).

Sekda Provinsi Jambi HM Dianto mengatakan kebun kelapa sawit tua itu terdiri dari kebun ex Pir trans seluas 61.285 hektar dan swadaya murni masyarakat seluas 101.830 hektar. Dikatakannya pemerintah akan member bantuan peremajaan sebesar Rp 25 juta/hektar yang merupakan dana hibah. Untuk  peremajaan satu hektar dibutuh dana 66 juta/hektar. “Jadi petani harus melakukan pinjaman ke bank sebesar kurang lebih Rp41 juta lagi dengan jaminan setifikat,” ujarnya kepada sejumlah wartawan.

Luas areal perkebunan kelapa sawit di Provinsi Jambi mencapai 689.966 hektar yang tersebar di 8 kabupaten yakni Kabupaten Batanghari, Muaro Jambi, Tanjung Jabung Barat, Tanjung Jabung Timur, Bungo, Tebo, Sarolangun dan Merangin.

Dijelaskannya peremajaan ini sangat mendesak, karena berdampak negatif terhadap ekonomi petani jika dibiarkan. Petani kata Dianto untuk melakukan peremajaan terbatasnya dengan pendanaan yang dimiliki. Sehingga pemerintah memberikan solusi dengan pemanfaatan dana bagi hasil pajak CPO melalui badan pengelola dana perkebunan kelapa sawit.

“Pemerintah menyediakan dana hibah Rp 25 juta per hektar yang dapat dimanfaatkan oleh para petani kelapa sawit untuk meremajakan kebun kelapa sawit memilikinya,” ucapnya.

Dijelaskannya kelapa sawit yang telah berumur hingga 30 tahun produktivitas tandan buah segar (TBS) akan turun. Menurunnya produktivitas secara otomatis akan mengurangi pendapatan para petani. “Harapan saya agar semua semua ketentuan yang berkaitan dengan peremajaan kelapa sawit dapat disampaikan kepada semua pemangku kepentingan,” ungkapnya.

Provinsi  Jambi merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki potensi perkebunan yang cukup potensial. Tentu saja ini merupakan aset dan modal bagi pembangunan daerah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat khususnya Provinsi Jambi.

Berdasarkan data produk domestik regional bruto tahun 2017, sumbangan perekonomian Jambi berasal dari sektor pertanian dan subsektor perkebunan memberikan kontribusi sebesar 18,5%. Berdasarkan data tersebut subsektor perkebunan merupakan andalan bagi perekonomian Jambi. Pasalnya ada lebih dari 660 KK petani yang berusaha pada komoditi perkebunan dengan luasan lebih dari 1,6 juta hektar.

Salah satu komoditi perkebunan yang banyak dan telah lama diusahakan oleh masyarakat desa adalah perkebunan kelapa sawit. Kondisi ini didukung oleh agroklimat yang cocok, potensi pasar dan kultur budaya masyarakat. “Dengan demikian komoditas kelapa sawit Ini memainkan peranan penting dan strategis di Provinsi Jambi,” jelas Dianto.

Hal ini dapat dilihat dari meningkatnya perekonomian di daerah sentra perkebunan kelapa sawit. Kelapa sawit merupakan salah satu komoditi unggulan Provinsi Jambi yang dapat menggerakkan ekonomi masyarakat. “Komoditi kelapa sawit ini mulai diperkenalkan di Provinsi Jambi sejak tahun 1980-an, melalui program perkebunan inti rakyat yang telah membawa dampak positif bagi pertumbuhan perekonomian dan percepatan pembangunan di Jambi,” ucapnya.

Komoditi kelapa sawit ini diusahakan secara luas baik yang dilakukan oleh masyarakat maupun yang dilakukan oleh pihak umum usaha atau perusahaan. Sehingga menjadi andalan utama bagi pemerintah dalam mensejahterakan masyarakat petani dan keluarganya.

Direktur Perkebunan Kementrian Pertanian Budi Gunadi mengatakan ada 127 komoditas perkebunan yang ada di Indonesia dan saat ini baru 16 komoditas salah satunya komoditi kelapa sawit.  “Produktivitas kelapa sawit kita masih jauh dibandingkan dengan potensinya yang ada  sekarang. Rata-rata baru sekitar 3,6 ton CPO per hektar per tahun,” ungkapnya.

Negara tetangga sudah lebih dari 8 ton CPO per hektar per tahun  dan rendahnya produktivitas nasional sawit itu lebih banyak dikarenakan  produktivitas sawit rakyat yang masih relatif rendah.  Jauh di bawah potensinya rata-rata baru sekitar 2,1 ton per hektar per tahunnya.

“Padahal kita punya sebuah cita-cita visi perkebunan ini untuk sawit 35 ton TBS per hektar/tahun, memang agak sulit,” ucapnya.

Kelapa sawit kata dia bukan hanya sekedar komoditas pangan yang bisa menghasilkan berbagai macam minyak dan makanan lainnya. Bahkan konon menurut penelitian produk dari sawit ini ada 99 produk turunannya.

Artinya kelapa sawit ini akan bisa mendorong industri pangan  Indonesia menjadi industri terbesar di dunia. “Artinya kita meningkatkan tarap hidup petani karena dari  5 juta hektar dalam setahun tidak kurang menghasilkan Rp426 triliun. Itu disumbangkan dari produktivitasnya jauh dibandingkan dengan potensinya yang ada,” ungkap Gunadi.(mas)