Senin, 23 Juli 2018 - 10:30:25 WIB
Pertamini Digital Ilegal Menjamur di Kota Jambi
Diposting oleh : Ir Fitriani Ulinda
Kategori: Eko/Bisnis - Dibaca: 217 kali

Mediajambi.com -   Pertamini Digital yang mulai menjamur di Kota Jambi diduga ilegal. Pasalnya peralatan digital yang menyerupai Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) itu bukan milik Pertamina, selain itu tera (alat takar)  diragukan, karena tak sesuai standar nasional Indonesia (SNI). Bahkan disinyalir BBM yang dijual  hasil sulingan (minyak bayat-red). Sejauh ini tidak ada pengawasan serius dari pihak terkait, dan larangan sehingga pedagang menilai usahanya sah-sah saja.  Banyak konsumen merasa dirugikan pasca membeli BBM di Pertamini karena kendaraannya rusak.

Pantauan di lapangan, ada beberapa titik Pertamini yang sudah beroperasi secara terang- terangan, menggunakan sistem digital, diantaranya di kawasan Simpang Rimbo, Beliung, Talang Banjar, kawasan jalan Juanda Mayang dan Seberang Kota Jambi. Ada dua hingga tiga jenis BBM yang disediakan pada Pertamini Digital, yaitu Premium, Pertalite, dan Pertamax, harganya diatas harga eceran di SPBU.

Mereka menjual BBM jenis premium dijual seharga Rp 8.000/liter, pertalite Rp 9.000/liter dan pertamax 11.500/liter. Bahkan secara terang-terangan memampang merek SPBU Mini buka 24 jam.  Pedagang mengaku membeli Pertalite dan Pertamax di SPBU yang dijual bebas. Sedangkan premium meski ada beberapa SPBU tidak menjualnya lagi, namun mereka masih bisa mendapatkan di SPBU dengan cara membeli eceran. “Kalau Pertamax dan Pertalite bebas belinya, namun Premium tidak bisa membelinya,” ujar Ujang (27) pengelola Pertamini Digital di kawasan Jalan H Juanda Mayang, Kota Jambi. Di kawasan ini setidaknya ada dua titik pertamini digital yang buka 24 jam.

Dia membantah adanya pasokan BBM hasil sulingan (minyak bayat-red) dan bukan dari  Pertamina sebagaimana kabar yang beredar berdasarkan pengaduan dari konsumen. Dia mengaku awalnya menjual BBM eceran  menggunakan jerigen sudah lebih dari 10 tahun. Karena melihat perkembangan yang menjanjikan dia membeli perangkat digital yang harganya mencapai Rp 40 juta/unit. “Kalau yang digital harganya berkisar Rp 40 juta, tapi yang manual paling tinggi modalnya hanya Rp 5 juta,” ujarnya.

Menurutnya saat ini hanya sebagian kecil pedagang pengecer yang menjual BBM menggunakan jerigen. Di era serba digital ini pedagang pengecer pun tak mau ketinggalan mengikuti perkembangan zaman.

Konsumen kata dia lebih senang, karena takarannya jelas dan tidak mereka-reka. Dia mengaku mengurus izin dari RT setempat  sebagai pengecer BBM.

Pengamat ekonomi Pasca Sarjana Fakultas Ekonomi Unja Dr M Surya Hidayat melihat dari sisi ekonomi masyarakat lebih kreatif dan lebih cerdas menangkap peluang pasar. Namun harus ada regulasi yang jelas dari mana suplay BBM , apakah dari Pertamina atau yang lainnya. Jika bukan dari Pertamina tentu akan merugikan konsumen dan hak-hak konsumen juga harus dilindungi. Selain itu peralatan digital yang digunakan juga harus sesuai standar dan diproduksi oleh pabrik memiliki standar yang jelas.  “Ini merupakan pekerjaan rumah (PR) Pemkot Jambi untuk menata dan mendata SPBU mini ini. Selanjutnya berkoordinasi dengan pihak Pertamina sebagai pemasok BBM kepada konsumen,” ucapnya.

Sebenarnya jika regulasinya jelas SPBU mini ini dapat membantu masyarakat yang membutuhkan BBM. Untuk itu dia berharap Pemkot Jambi bersikap bijak melihat perkembangan ini. Dia juga menyarankan kepada instansi terkait untuk mendata seluruh pengecer BBM, sehingga memilikidata yang akurat, agar harga dan takaran (tera) sesuai standar.

 

Bukan Milik  Pertamina

Selama ini informasi dari pedagang pengecer membeli BBM di SPBU menggunakan jerigen atau melansir menggunakan kendaraan. Masalahnya pihak Pertamina hanya menyalurkan BBM ke SPBU yang menjual kepada konsumen sesuai harga eceran tertinggi (HET).

Pihak SPBU juga dilarang menjual BBM dalam jumlah tertentu kepada masyarakat menggunakan jerigen. Namun saat ini beredar minyak sulingan yang kualitasnya diragukan, karena warna dan bentuknya sama persis dengan produk Pertamina, sehingga merugikan konsumen.

Officer Communication dan Relation Pertamina  Sumbagsel Bramantyo Rahmadi saat dihubungi mengakui Pertamini Digital yang mulai marak itu bukan milik Pertamina dan tidak sama dengan SPBU. Namun demikian tentang legalitas merupakan kewenangan pemerintah setempat.

Dijelaskannya juga Pertamina selama ini hanya menyalurkan berbagai jenis BBM ke kepada masyarakat melalui SPBU. Jadi kata dia sebaiknya konsumen membeli BBM di SPBU yang harga, kualitas dan takarannya jelas, karena telah ditetapkan pemerintah.  “Namun ini tergantung konsumen lagi, kita hanya bisa menghimbau,” ucapnya.

Pihak Pertamina juga tidak memiliki wewenang untuk melarang atau mengizinkan berdirinya Pertamini Digital. Untuk itu dia berharap kepada konsumen bijak dalam berbelanja, belilah produk yang sesuai standar. Dengan demikian kendaraan akan awet dan tidak mudah rusak. “Jika tak ada konsumen yang beli, maka lambat laun akan tutup sendiri,” ucap Bram.(mas/yen)