Senin, 03 Agustus 2015 - 17:20:08 WIB
Inflasi Kota Jambi Bulan Juli 1,54 Persen
Diposting oleh : Ir Fitriani Ulinda
Kategori: Eko/Bisnis - Dibaca: 705 kali

IMediajambi.com- Pada bulan Juli 2015 Kota Jambi mengalami inflasi sebesar 1,54 persen  dengan indek harga konsumen 121,17. Jauh lebih tinggi bila dibandingkan bulan Juni yang hany 0,54 persen, karena terjadi peningkatan  indeks harga pada lima kelompok pengeluaran barang dan jasa di bulan puasa dan menyambut lebaran.

Kepala BPS Provinsi Jambi  Yos Rusdiansyah mengatakan laju inflasi tahun kelender kota Jambi sebesar 0,94 persen, sedangkan laju inflasi tahun ke tahun sebesar 6,68 persen. Inflasi disumbangkan kelompok makan sebesar 3,12 persen, makan jadi, minuman, rokok dan tembakau 0,34 persen, kesehatan 0,17 persen, pendidikan rekreasi dan olahraga 0,03 persen serta kelompok transporasi, komunikasi dan jasa keungan 4,15 persen. “Sedangkan deflasi terjadi pada kelompok sandang 0,14 persen dan perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar 0,14 persen,” ujar Yos pada Berita Resmi Statistik 3 Agustus 2015.

Inflasi bulan Juli disumbangkan angkutan udara 0,76 persen, cabe merah 0,31 persen, daging ayam ras 0,18 persen, beras 0,11 persen, daging sapi 0,06 persen , kentang 0,03, kangkung 0,03 persen, cabe rawit 0.031 dan angkutan antar kota 0,027 persen.

Pengamat ekonomi Fakultas ekonomi Unja Dr Haryadi mengatakan inflasi akan tinggi akan terjadi menjelang lebaran. Hal ini disebabkan masyarakat berupaya membeli berbagai kebutuhan untuk persiapan lebaran. “Sudah menjadi kebiasaan setiap tahunnya, menjelang lebaran inflasi naik,” ujarnya.

“Inilah tugas tim pengendalian inflasi daerah (TPID) yang telah terbentuk memantau harga-harga komoditi yang dibutuhkan masyarakat, jika terjadi kelangkaan maka inflasi sulit dikendalikan. Untuk itu TPID harus melakukan berbagai upaya untuk menstabilkan harga, seperti melakukan operasi pasar murah, memantau kondisi stok barang yang ada di gudang. Tujuannya agar harga tetap stabil dan agen tidak melakukan penimbunan barang,” jelasnya.

Selanjutnya juga dihimbau kepada seluruh masyarakat agar tidak melakukan aksi beli. Timbulknya aksi beli ini membuat konsumen resah dan dalam keadaan seperti ini pedagang menahan stok barang dengan alasan  berkurangnya pasokan. “Jadi belilah sesuai dengan kebutuhan jangan melakukan aksi borong,” ungkap Haryadi.(mas)