Selasa, 16 Oktober 2018 - 09:18:09 WIB
Produksi Padi Batanghari Sebesar 18.793 ton
Diposting oleh : Ir Fitriani Ulinda
Kategori: Pertanian - Dibaca: 57 kali

Mediajambi.com - Dnas Tanaman Pangan dan Hortilultura Kabupaten Batanghari mencatat produksi padi gabah kering giling (GKG) di Kabupaten Batanghari per September 2018  sebanyak 18.793 ton. "Produksi padi tersebut hasil panen padi dari 3.995 hektar lahan sawah yang tersebar di delapan kecamatan," kata Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Tanaman Pangan dan Hultikultura Kabupaten  Batanghari Isnen di Muarabulian.

Produksi padi tersebut merupakan hasil dari produksi padi sawah dan ladang yang terdapat di daerah itu. Untuk produksi padi sawah  sampai dengan September 2018 sebesar 17.731 ton dengan luas lahan yang di panen seluas 3.624 hektar. Untuk produksi padi ladang, per september 2018 sebesar 1.062 ton dari luas lahan yang di panen seluas 371 hektar.

Bila  dilihat dari target yang harus dicapai pada tahun 2018 ini, produksi padi daerah itu masih jauh dari target yang ditetapkan. Pada tahun 2018  pemerintah daerah itu manargetkan luas tanam padi seluas 10.300 hektar, dengan target produksi sebesar 47.548 ton.

"Masih rendahnya produksi padi tersebut karena saat ini masih banyak lahan sawah yang belum panen, saat ini sebagian masyarakat masih melakukan pemanenan sehingga datanya belum masuk," kata Isnen.

Sementara itu, dari delapan kecamatan di daerah itu produksi padi terbesar berada di Kecamatan Maro Sebo Ulu dengan produksi mencapai 5.678 ton. Produksi Padi di Kecamatan Mersam sebesar 3.620 ton, Kecamatan Muaratembesi sebesar 772 ton, Kecamatan Batin XXIV 373 ton, Kecamatan Maro Sebo Ilir 1.748 ton, Kecamatan Muarabulian 2.581 ton, Kecamatan Bajubang 670 ton dan di Kecamatan Pemayung sebesar 3.351 ton.

Dan untuk produktifitas padi di daerah itu alami peningkatan dari tahun sebelumnya. Pada tahun 2018 ini produktifitas padi di daerah itu sebesar 4,70 ton perhektar. Sementara pada tahun 2017 produktifitas padi sebesar 4,65 ton perhektar. "Meski sempat alami musim kemarau, namun sebagian besar lahan sawah kebutuhan airnya terpenuhi, sehingga tidak begitu berpengaruh terhadap produktifitasnya," kata Isnen menambahkan.(mas)