Senin, 10 Desember 2018 - 12:05:22 WIB
Bermodal Sepuluh Ribu Rempeyek Ilham Tembus Pasar Provinsi Tetangga
Diposting oleh : Ir Fitriani Ulinda
Kategori: Usaha - Dibaca: 194 kali

Mediajambi.com - HANYA bermodalkan uang Rp 10.000 saja, Zaitun (46) seorang warga Kota Jambi berhasil menjadikan usaha pembuatan rempeyeknya, naik daun.

Usaha pembuatan rempeyek ala emak-emak rumahan yang dikelolanya  sejak tahun 2004 lalu, dengan penuh ketekunan, kegigihan, sabar dan terus belajar, kini menjadi usaha kecil menengah di Kota Jambi yang patut diperhitungkan.

“Alhamdulilah, saya tidak menyangka, bisa bertahan dan menjadi besar seperti ini. Apalagi sejak mendapat bimbingan  serius dari program Wira Usaha Bank Indonesia ( WUBI), saya semakin bersemangat membesarkan usaha ini,” kata pemilik usaha rempeyek bermerek dagang Ilham ini kepada Media Jambi.com yang menemuinya, pekan lalu.

Zaitun mengawali semua dengan kerja keras, dan tidak menjadikan modal faktor utama.  Dengan uang Rp 10.000 di kantong, dia membeli bahan-bahan berupa kacang  tanah, teri, tepung terigu dan minyak goreng.  Bahan itu diolahnya menjadi peyek, yang dititipkannya di warung warung dengan harga Rp 2.000 per bungkus.  Usaha coba-coba itu, ternyata mendapat respon positif, dagangannya, laris manis.

Hal itu membuat  Zaitun bersemangat. Lalu dia menambah produksi pembuatan peyek, dan melebarkan tempat penitipan peyeknya tidak lagi ke warung-warung,juga ke beberapa mini market dan toko makanan yang ada di Kota Jambi.  Awalnya produk yang dijajakannya tanpa merk. “Karena produk saya belum memiliki merk, tahun 2005,  saya memberikan nama Ilham,” kenangnya.

Tidak itu saja, dia mulai mempercantik kemasan,  dan mulai percaya diri untuk menitipkan produknya diswalayan besar, dan menjualnya dengan harga  Rp 2.400 per bungkus dengan isi 10 peyek. “Alhamdulillah lancar, dan saya bisa meraup omset sekitar Rp 2,5 juta  sebulan,” ungkapnya gembira.

Tahun 2006,  Zaitun dibantu sang suami, Eko mengurus izin dari Dinas Kesehatan. Setelah mengantongi izn  dia mencoba menjajaki tempat pemasaran lain,  diantaranya ke toko oleh- oleh khas Jambi dan Dekranasda Kota Jambi serta diluar Kota jambi. “Saya juga pasarkan lewat beberapa toko di luar Kota Jambi seperti kabupaten Tanjab Barat, Tanjab Timur dan Bungo,” jelasnya.

Seiring dengan meningkatnya permintaan dan produksi, diapun menambah jumlah pekerja dari dua orang menjadi  lima orang. “Walau permintaan meningkat, namun cita rasa tidak pernah berubah. Dengan demikian pelanggan tidak kecewa, karena enak kata kita belum tentu enak kata konsumen,” ucapnya.

 

Kembangkan Usaha

Tidak hanya peyek,  sejak tahun 2009 Zaitun juga berusaha membuat variasi produksi, yaitu membuat peyek vegetarian dari sayur- sayuran. Lagi-lagi,  inovasi usahanya, disukai masyarakat.  “Dulu saya buat keripik tempe, dan karena tidak ada saingan, sangat di sukai konsumen,” paparnya. 

Melihat lancarnya usaha yang dikelolanya dibarengi tekad ingin mengembangkan usaha, Zaitun tahun 2011  meminjam modal dari  BRI Syariah sebesar Rp 100 juta. “Dengan modal uang Rp 100 juta, saya lengkapi peralatan usaha, dan merekrut beberapa karyawan lagi, " jelas Zaitun.

Setelah kuat di pasar dalam kota, tahun 2016,  rempeyek Ilham mencoba merambah ke pasar di luar Provinsi Jambi.  Kini, peyek dan tempe goreng buatannya ada di provinsi tetangga, seperti  Pangkalan Kerinci, Lampung, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Bengkulu, Pekan Baru dan Jakarta . “Saya memang bertekad ingin supaya rempeyek Ilham dikenal dan disukai, tidak hanya di Jambi saja, juga meluas. Dan saya gunakan tenaga sales untuk memasarkan produk ini ke luar Jambi,” paparnya.

Saat ini, dia mengaku masih terkenda pada ketiadaan peralatan pengering tempe. "Produksi tempe masih secara manual sehingga agak lama, tempe tidak bisa langsung digoreng kerena masih basah," ujar Zaitun yang juga merupakan Ketua Asosiasi Makanan dan Minuman (Asmami) Kota Jambi ini.

Zaitun mengaku, dia semakin bersemangat melebarkan usaha setelah mendapat beberapa kali pelatihan, terutama yang diadakan Bank Indonesia, melalui program WUBI. Beberapa pelatihan yang diikutinya, diantaranya tentang pembukuan, dan juga ilmu pengetahuan lainnya.

“Kita juga diajarkan jangan hanya mengejar usaha saja tetapi juga beramal. Menyisihkan  sebagian rejeki untuk bersedekah, “ ungkapnya.

Selain itu mereka juga diajarkan untuk menciptakan produk lain. “Alhamdulillah sejak mengikuti traning itu,  saya kini bisa mengaji diri saya sendiri, jelasnya. (yen)