Rabu, 09 Januari 2019 - 09:28:36 WIB
Provinsi Jambi Terancam Krisis Beras
Diposting oleh : Ir Fitriani Ulinda
Kategori: Pertanian - Dibaca: 67 kali

Mediajambi.com -   Provinsi Jambi selama tahun 2018 mengalami defisit beras hingga sebanyak 46.764 ton. Dari  total kebutuhan konsumsi sebesar 334.520 ton beras, produksi beras yang dihasilkan hanya 287.756 ton.  Surplus beras hanya terjadi selama lima bulan yakni  Januari hingga Mei, sedangkan tujuh bulan berikutnya defisit. Jika hal ini tidak diatasi secepatnya maka Provinsi Jambi terancam krisis beras dan bergantung dari beras luar daerah.

Kepala BPS Provinsi Jambi Dadang Hardiwan mengatakan luas  panen padi di Provinsi Jambi periode Januari sampai Desember 2018 sebesar 118.408 hektare. Produksi padi di Provinsi Jambi Januari sampai Desember 2018, sebesar 500.021 ton GKG. “Jika produksi padi dikonversikan menjadi beras dengan menggunakan angka konversi GKG ke beras tahun 2018, maka produksi padi tersebut setara dengan 287.756 ton beras saja,” ujarnya.

Berdasarkan hasil survei Kerangka Sampel Area (KSA) oleh BPS Provinsi Jambi selama tahun 2018 defisit beras sebanyak 46.764 ton tersebut berlangsung mulai Juni sebesar 3.017 ton, Juli 3.420 ton, Agustus 8.654 ton. Puncaknya terjadi  September 10.851 ton, Oktober 16.355 ton, November 19.287 ton dan Desember 14.235 ton. Bulan November 2018 lalu produksi beras hanya 8.208 ton, dan Desember kembali naik menjadi 14.176 ton. "Penyebabnya November terjadi musim hujan dengan intensitas lebat, sehingga merendam areal persawahan yang mengakibatkan sejumlah tanaman padi puso,” ujarnya.

Ada tiga wilayah dengan produksi padi (GKG) tertinggi di Provinsi Jambi yaitu Kabupaten Kerinci 104.521 ton, Kabupaten Tanjung Jabung Timur 73.018 ton, dan Kabupaten Tanjung Jabung Barat dengan produksi sebesar, dan 65.396 ton.

Defisit beras di Provinsi Jambi ini memberi peluang dari daerah lain memasok beras ke Provinsi Jambi. “Makanya harga beras mulai pertengahan tahun hingga akhir tahun mengalami kenaikan,” ujarnya.

Permasalahan yang dihadapi petani, yaitu tidak bisa turun ke sawah karena adanya perubahan iklim mulai Juni hingga September terjadi kemarau sedangkan Oktober hingga Desember mengalami musim penghujan. Bahkan puluhan ribu hektar sawah yang ada di Provinsi Jambi mengalami puso dan gagal panen. “Cuaca ekstrim sangat berpengaruh terhadap produksi padi,” ungkapnya.

Akibatnya program tanam padi tiga kali setahun sebagaimana yang didengung-dengung pemerintah tidak bisa dilakukan, karena faktor cuaca yang tidak memungkinkan.  Petani hanya bisa turun ke sawah sekali setahun selama tahun 2018 ini. “Kami BPS hanya bisa memotret situasi dilapangan, dan memberi masukan kepada pemerintah selaku pemangku kepentingan,” ucapnya.

Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Jambi A Mausul mengklaim luas panen padi selama tahun 2018 seluas 176.909 ha dengan produksi gabah kering giling (GKG) sebesar 893.174 ton. Lahan tersebut tersebar di 11 kabupaten/kota dalam Provinsi Jambi. Terluas terdapat di Kabupaten Kerinci yakni 40.611 ha dengan produksi sekitar 255.466 ton gabah kering giling. Sedangkan jenis padi yang disukai petani yakni jenis hibrida, karena selain tahan terhadap hama juga perawatan tidak terlalu sulit.

Dijelaskannya, sasaran luas tanam padi sawah dan padi ladang untuk Provinsi Jambi tahun 2019 seluas 178.245 ha dengan sasaran produksi 845.853 ton. Jagung dengan luas tanam 17.347 ha, produksi  96.766 ton, sedangkan kedelai dengan luas tanam 8.509 ha dan produksi 9.742 ton. “Jadi selain padi sawah juga akan dikembangkan padi ladang,” ucapnya melalui pesan singkat.

Angka sasaran produksi ini diharapkan bisa dicapai dan bahkan bisa melebihi target dengan adanya peningkatan indeks pertanaman, meningkatnya produktivitas padi, jagung dan kedelai juga program peningkatan produksi tanaman pangan yang masuk ke Jambi melalui Kementerian Pertanian.

Dia mengakui terjadi penurunan produksi padi selama tahun 2018, hal ini disebabkan cuaca ekstrim yang melanda Provinsi Jambi. Pasalnya sejumlah sentra padi di Provinsi Jambi banyak yang terendam, namun tidak sigifikan dan masih bisa diselamatkan.

Pengamat  Pertanian Fakultas Pertanian Unja Ir Dede Martino mengatakan cuaca ektrim memang menjadi faktor penghambat.  Namun  berkurangnya produksi beras juga akibat adanya alih fungsi lahan oleh masyarakat. Baik itu menjadi perkebunan kelapa sawit, pemukiman maupun penambangan emas tanpa izin (PETI) seperti di Kabupaten Merangin.

Petani kata Dede banyak yang tidak tertarik menanam padi, dan mengalihfungsikan lahan menjadi kebun kelapa sawit, karena tergiur hasil sawit.  Seperti yang terjadi di Kabupaten Tanjung Jabung Timur dan Tanjung Jabung Barat dan beberapa daerah lainnya. Di Kabupaten Kerinci dan Sungai Penuh yang notabene lumbung beras di Provinsi Jambi  sebagian besar lahan yang dulunya sawah kini  berubah fungsi menjadi kawasan pemukiman.  "Jika  ini terus dibiarkan, tentunya lambat laun sawah akan habis karena alih fungsi lahan dari sawah ke pemukiman," ujarnya.

Berkurangnya luas lahan sawah sulit dihentikan, karena belum adanya Perda yang menjadi payung hukum. Pemerintah melalui instansi terkait harus mempetakan daerah yang potensial untuk dijadikan lahan pertanian pangan berkelanjutan. “Daerah yang potensial yang tidak dialih fungsikan selama 10 tahun kedepan,”  kata Dede.

Dede menawarkan solusi agar tidak terjadi defisit beras tahun 2019 mendatang instansi terkait harus memperluas lahan persawahan. Memang untuk mencetak sawah baru tidak memungkinkan karena terbatasnya lahan. Tapi bisa dilakukan dengan penanaman padi ladang. “Produksi pada ladang tidak sebanyak sawah, tapi setidaknya dapat mengatasi masalah krisis beras,” ujarnya.

Selanjutnya, selain memperluas lahan sawah yang tak kalah penting yakni pengelolaan tata air. Jika irigasi dan embung berfungsi dengan baik, dia yakin banjir  dan kekeringan dapat diatasi. “Ketika musim hujan air dapat ditampung diembung, kemudian musim kemarau embung sebagai sumber air,” ucap Dede.

Menurunya, produksi padi akan berpengaruh terhadap kesejahteraan petani, termasuk nilai tukar petani (NTP) yang Desember 97,13 dan  sebelumnya 98,07 atau terjadi penurunan 0,96 poin.  Dengan berfungsinya irigasi dan embung Dede yakin produksi padi dapat dipertahankan, memang harus diakui lahan sawah yang berada dibantaran sungai sulit untuk diselamatkan ketika musim hujan dan luapan air. “Setidaknya dalam setahun bisa tanam dua kali,” katanya.

Harus diakui, masyarakat Provinsi Jambi umumnya mengkonsumsi beras dari luar, seperti dari Sumatera Selatan, dan  Sumatera Barat. Katanya produksi beras surplus tapi tidak dinikmati masyarakat tapi dijual ke luar provinsi. Seperti beras Kerinci dijual ke Sumatera Barat, sedang dari Tanjung Jabung Timur dan Barat dijual ke Riau.(mas)