Rabu, 09 Januari 2019 - 09:31:30 WIB
Nilai Tukar Petani Provinsi Jambi Turun
Diposting oleh : Ir Fitriani Ulinda
Kategori: Pertanian - Dibaca: 35 kali

Mediajambi.com - Pada bulan Desember 2018 Nilai tukar Petani (NTP) Provinsi Jambi sebesar 97,13 atau turun 0,96 persen dibanding bulan November yaitu 98,07 point. Penurunan ini disebabkan Indeks Harga yang diterima petani (It) turun sebesar 0,72 persen, sedangkan Indeks Harga yang dibayar petani (Ib) naik sebesar 0,24 persen.
Kepala BPS Provinsi Jambi Dadang Hardiwan, mengatakan, menurut catatan pada bulan sebelumnya Januari sampai dengan Desember, NTP Desember memang paling rendah. “Bisa kita lihat di bulan Desember ini memang beberapa harga komoditi memang rendah dibanding dengan bulan-bulan sebelumnya. Beda tipis pada bulan Juli 97,48 dan bulan Desember 97,13,” kata dia.
Jika dilihat semua provinsi di Indonesia, Pulau Sumatera dominan mengalami penurunan di NTP. Hanya Lampung dan Kepulauan Riau yang mengalami peningkatan NTP. Ia juga berharap, untuk tahun 2019 agar semua lebih baik lagi dan ada perkembangan serta inflasinya lebih terkendali lagi.
“Mudah-mudahan 2019 itu semua keinginan kita, semua indikator yang ada di Provinsi Jambi membaik dibanding 2018,” tambahnya.
Sementara itu, pada NTP yang mengalami penurunan di Provinsi Jambi, khususnya banyak pada NTP di karet dan sawit yang mengalami penurunan harga. Hal ini disebabkan karena harga International yang rendah, sehingga harga karet dan sawit pada NTP mengalami penurunan.
Untuk tahun 2019 NTP Jambi tergantung pada harga komoditas yang mayoritas perkebunan. Di sektor perkebunan tersebut, mayoritas karet dan sawit. Jadi harga NTP Jambi ini tergantung pada harga karet dan sawit.
“Kalau harga sawit dan karet naik biasanya harga NTP naik dan sebaliknya. Karena memang mata pencarian yang paling banyak di situ,” katanya. Ia juga berharap pada kebijakan pemerintah, agar bagaimana harga petani karet dan sawit bisa dihargai lebih tinggi.
Seumpama pemerintah membeli karet tersebut dengan harga yang wajar dan diolah pemerintah, baru dijual keluar oleh pemerintah. “Mungkin bisa mengatasi persoalan yang saat ini terjadi.” timpalnya.
“Banyak juga negara-negara luar sekarang memproduksi karet dan sawit. Otomatis mereka mencari yang bagus kualitasnya dan kita harus bisa bersaing dengan kualitas mereka,” tandasnya.
(mas)