RAGAM

Catatan KKI Warsi Refleksi Ramadhan untuk Lingkungan

Maas | Jumat, 17 Mei 2019 - 20:15:40 WIB |


Mediajambi.com - Ramadhan menjadi bulan yang ditunggu-tunggu oleh kaum muslimin di seluruh dunia. Setiap momen yang hadir pada bulan Ramadhan dapat saja menjadi pintu berkah serta ampunan dari Allah untuk setiap hambanya yang bersungguh-sungguh untuk beribadah pada bulan yang suci ini. Termasuk menebar kebaikan, melakukan introspkeksidan saling mengingatkan atas perbuatan terhadap lingkungan .

“Alam dan lingkungan sebagai Rahmat dari sang pencipta, harusnya di kelola dengan baik, sehingga juga akan memberi kebaikan untuk kita semua,”kata Rudi Syaf  Direktur KKI WARSI dalam acara media gathering  dengan tema Refleksi Ramadhan untuk Lingkungan.

Menurut catatan KKI WARSI, telah terjadi ketidakseimbangan ekosistem yang disebabkan oleh semakin berkurangnya luas tutupan hutan yang berfungsi sebagai pengendali ekologi serta pengurangan gas karbon diudara yang dapat memicu perubahan iklim. Luas tutupan hutan di Jambi saat ini berkisar di angka 920 ribu ha yang berarti dari total luas wilayah Provinsi Jambi, hanya sekitar 18 persennya saja yang masih memegang peran kunci hutan.  Demikian juga dengan lahan gambut yang mengalami kerusakan parah. Dari  670.413 ha lahan gambut, 86.442 ha dijadikan tanaman hutan tanaman industri dengan  10.806 ha diantaranya berada di kedalaman lebih dari 4 meter  dan   136.396 ha dijadikan perkebunan sawit dengan  18.895 ha dengan kedalaman lebih dari 4 meter. Kanal-kanal memotong lahan gambut, sehingga airnya berkurang drastis bahkan kehilangan kemampuannya untuk menyerap air. Akibatnya gambut menjadi sangat mudah kebanjiran di musim hujan dan kebakaran di musim kemarau.

“Dampak dari perlakuan yang keliru pada lahan gambut ini justru di rasakan langsung oleh masyarakat. Keadaan ini sekitarnya, diterjang banjir, ketika kanal perusahaan di lepaskan untuk mengurangi air gambut di musim hujan,”kata Rudi.

Pun demikian menyambut musim kemarau dalam beberapa waktu ke depan. Bahaya kebakaran  mengintai. Potensi luas kebakaran gambut di Provinsi Jambi sebesar 631.628 hektar. Masing–masing Potensi luas kebakaran gambut di Kabupaten Tanjung Jabung Barat 206.306 hektar, potensi luas kebakaran Kabupaten Tanjung Jabung Timur 217.345 hektar, potensi luas kebakaran gambut di Kabupaten Muaro Jambi 207.977 hektar. Potensi kebakaran ini berada dalam kawasan yang dikelola perkebunan dan hutan tanaman serta lahan kebun masyarakat yang ada di wilayah gambut.

“Kondisi ini terjadi karena masih lemahnya kesadaran para pihak untuk berprilaku adil  pada lingkungan,”sebut Rudi.

Tidak hanya itu, aktivitas illegal yang terjadi di pinggiran sungai oleh pihak yang tidak bertanggung jawab juga memperparah keadaan. Baik illegal logging, illegal drilling dan illegal mining tumbuh subur di Provinsi Jambi. Dari data yang di dapat oleh KKI Warsi untuk illegal mining saja, pembukaan lahan terutama di sepanjang alur sungai akibat aktivitas penambangan emas tanpa izin (PETI) mencapai 27,822 ha pada tahun 2017. Belum lagi pengeboran minyak illegal hingga pembalakan liar yang bahkan dibeberapa kasus ditemukan di dalam wilayah konservasi. Perbuatan yang dilakukan pun seharusnya tidak berorientasi pada bidang ekonomi saja tetapi juga harus berorientasi lingkungan serta pembangunan yang berkelanjutan yang menurut Undang-Undang Nomor 32 tahun 2009 menempatkan lingkungan menjadi pertimbangan utama dalam pembangunan yang berkelanjutan termasuk dalam hal pembangunan industri.

”Para pemegang serta pembuat kebijakan seharusnya dapat melakukan perbaikan serta meninjau ulang terkait kebijakan yang pernah dibuat dan diaplikasikan, sehingga bisa berkontribusi terhadap pemulihan lingkungan,”kata Rudi.

Dikatakan untuk pihak swasta ataupun investor yang menanamkan modal serta melakukan usahanya di Provinsi Jambi secara khusus dan Indonesia secara umum, sudah seharusnya untuk lebih memperhatikan kondisi sekitarnya sehingga tidak merugikan masyarakat serta lingkungan yang ada disana dan meminimalisir terjadinya konflik antara masyarakat dengan pihak swasta tersebut. Masyarakat pun juga selayaknya untuk memberikan kontribusi terhadap lingkungan dengan melakukan perbaikan – perbaikan tata guna dan tata kelola lahan di sekitarnya dengan memperhatikan daya dukungnya.

Maka dari itu, Ramadhan ini tentu saja dapat menjadi momen yang pas untuk melakukan refleksi terhadap apa yang telah kita buat dan apa yang akan kita lakukan ke depannya terkait dengan penyelamatan lingkungan. Alam serta segala isinya merupakan anugerah dari Allah yang diberikan untuk manusia dan makhluk hidup lain. Allah melalui surat Ar-Rum ayat 41 berfirman ”Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”. Ayat tersebut menjadi peringatan bagi manusia agar memberikan perlakuan yang baik terhadap alam dan lingkungan agar tidak menjadi bumerang yang akan merugikan umat manusia itu sendiri.***










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)