Ekonomi

Harga si Merah di Jambi Membubung Tinggi dan Tak Terkendali

Maas | Kamis, 08 Agustus 2019 - 10:21:13 WIB |

Mediajambi.com – Menjelang perayaan Idul Adha 1440 hijriah yang jatuh tanggal 11 Agustus harga komoditi cabe merah setiap harinya mengalami kenaikan bahkan tak terkendali. Pantauan dibeberapa pasar yang ada di Kota Jambi, Kamis (8/8/2019) harga cabe merah besar mengalami kenaikan harga dari Rp.85.000 atau sebesar Rp.23.000 per kilogram. Cabe merah keriting mengalami kenaikan harga dari Rp.66,000 menjadi Rp.90.000 atau sebesar Rp.24.000 dan cabe rawit hijau mengalami kenaikan harga dari Rp.56,000 menjadi Rp.60.000 atau sebesar Rp.4.000 disebabkan berkurangnya pasokan.

 Lebih dari dua bulan belakangan ini harga cabe tinggi di Provinsi Jambi, walau ada penurunan hanya sedikit. “Harga cabe merah tidak pecah dari Rp 50.000 perkilonya,” ujar Sumartini (37) pedagang pengecer cabe di Pasar Rakyat Angso Duo.

 Menurutnya naik atau turunnya harga cabe tergantung pasokan. Bila pasokan menipis harga langsung membubung, tapi bila pasokan melipah harga turun. Komoditi cabe menurutnya sebagian besar dipasok dari pulau Jawa dan hanya sebagian kecil cabe lokal. “Konsumen juga lebih senang membeli cabe dari pulau Jawa, karena warna merah segar, sedangkan cabe lokal kecil-kecil,” ucapnya.

 Dikatakannya, saat ini pengecer juga membatasi stok, hal ini disebabkan takut rugi. Pasalnya cabe yang dibeli dari agen dalam karung dan tidak bisa memilih apakah bagus semua atau banyak yang rusak. Konsumen umumnya membeli cabe dengan memilih yang bagus-bagus sedangkan yang patah dan rusak ditinggalkan. “Pengecer sering rugi, karena cabe yang patah dan rusak tak laku dijual, sedangkan hal itu sudah masuk dalam hitungan,” ungkapnya.

 Membubungnya harga komoditi cabe ini membuat kalangan ibu rumah tangga dan rumah makan menjerit. Pasalnya mahalnya harga cabe akan berpengaruh terhadap konsumen. “Umumnya konsumen ingin sambal pedas, dan jika dikurangi akan merubah citarasa,” ujar Bambang pemilik rumah makan Pusako.

 “Tidak hanya cabe yang harga berfluktuasi sembako lain juga, seperti harga ayam potong, bawang merah, bawang putih dan lain-lain. Kita juga tak mungkin menaikkan harga jual dengan alasan harga sembako naik. Nanti pelanggan lari dan mencari rumah makan lain,” ucap Bambang.

 Jika ditanya apakah masih ada untung ditengah harga sembako berfluktuasi seperti saat ini. Dia menjawab masih, namun sangat tipis. “Harus bertahan meski ditengah situasi sulit seperti sekarang ini,” ungkap Bambang.(mas)

 

 

 










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)