RAGAM

Mengejar Matahari Terbit ke Gunung Bromo

Maas | Selasa, 05 Maret 2019 - 11:50:59 WIB |

Media Jambi.com - FamTrip yang diadakan Dinas Pariwisata Jogjakarta untuk wartawan peserta HPN 2019 ke Batu Malang, Bromo dan Sidoardjo menyimpan kesan tersendiri. Tour gratis dengan fasilitas menyenangkan, jamuan berkelas dari pejabat daerah hingga pesona wisata yang luar biasa menjadi cerita indah yang sayang jika tidak dibagikan. Terutama kunjungan ke kawasan Bromo, Probolinggo Jatim.

Para wartawan se Nusantara yang berjumlah sekitar 200 orang itu terlihat antusias  berkunjung ke kawasan wisata yang sudah tersohor itu, Minggu dinihari (10/2). Setelah hanya memejamkan mata sejenak di Hotel El Kartika Kota Batu, pukul 00.30 wib bertolak ke Bromo melalui Probolinggo. Menurut guide yang menyertai rombongan, Haris, Bromo bisa ditempuh melalui Malang, Probolinggo, Pasuruan dan Lumajang.

Jalan yang berkelok kelok tidak lagi kami pedulikan, karena setelah menyantap roti dan telur, banyak yang terlelap. Tiba di Hotel Nadia, semua berkemas kemas, saya karena tidak membawa hacker,  memutuskan memakan baju lapis tiga. Bercelana jeans sekaligus kulot. Tidak lupa memakai sarung tangan, kaus  kaki dan topi kupluk dan syal. Lalu menggunakan mobil hardtop yang dikemudikan pak Suharta kami mulai perjalanan memburu matahari terbit melalui tanjakan Seruni Point.

Sambil bercerita, pak Suharta mengendalikan hardtop milik juragannya menembus dinginnya malam. Gelap di kanan kiri jalan, menjelang subuh kami tiba di sebuah jalan yang sudah dipenuhi mobil. "Kita hanya bisa sampai disini, karena jalan sudah dipenuhi mobil, jalan saja tidak jauh," katanya sambil membukakan pintu. Dengan bersemangat kami turun. Beberapa ojek motor langsung menawarkan untuk mengantar sampai ke Seruni Point dengan biaya Rp 50.000 perorang.  Kami menolak dan terus berjalan. Tanjakan pertama sudah dilalui, gelap gulita hanya ada satu orang warga yang menawarkan topi. Karena sudah punya kami terus melanjutkan perjalanan. Hingga tanjakan kedua, tidak juga ada tanda tanda keramaian. Hingga tanjakan berikutnya, kami bertemu satu keluarga, seorang ayah, isteri dan 3 anaknya. "Ga jauh lagi Bu, itu yang ada lampunya tempat melihat matahari terbit," ujar sang bapak.

Mereka beristirahat karena kecapaian. Kamipun ikut berhenti. Sekitar 5 menit saja kami lanjutkan perjalanan hingga menemukan warung yang duduk di sana beberapa orang. Kami sudah keletihan karena semalaman tidak tidur dan langsung mengiyakan ketika tukang ojek menawarkan jasa mengantar sampai Penanjakan. Kami harus membayar Rp 50 ribu untuk bertiga. Di Penanjakan, ratusan mobil sudah terparkir dan banyak orang duduk di warung. Warga menawarkan kami untuk naik kuda untuk menuju Seruni Point dengan tarif Rp 150.000 perorang, kami menolak dan tarif turun menjadi Rp 100.000 saja. Kamipun menolak, kami memilih untuk sholat subuh di warung warga.

Untuk mengambil wudhu, warga menyediakan WC umum yang lumayan bersih. Mau buang air kecil, air besar atau wudhu semua dikenakan tarif Rp 5.000. Begitupun untuk numpang sholat, dikenakan tarif Rp 5.000 dengan hanya beralaskan gulungan karpet plastik hitam. Pemilik warung tidak bisa menjelaskan kemana arah kiblat, karena mereka sebagian besar beragama Hindu. Usai sholat kami memutuskan untuk tidak meneruskan perjalanan ke puncak Seruni, karena mendung. Dari Penanjakan kami melihat sunrise muncul malu malu, dan cukup lama menunggu tak kunjung keluar kecuali asap menutupi kawah Bromo. Itupun pemandangannya sangat indah. Tidak lama, karena mendekati pukul 05.30 wib, pengunjung beramai ramai turun, ada yang menggunakan kuda dan jalan kaki. Seorang wartawan terlihat jalan terseok Seok dan langsung oleh temannya diantar naik motor menuju hardtop yang menanti di bawah. Kamipun memutuskan untuk menuju hardtop menggunakan motor karena keletihan.

Kemudian kami diajak ke kawasan Padang Pasir Berbisik dan Bukit Teletubbies. Sepanjang mata memandang hanya terlihat hamparan pasir dan bebukitan yang hijau yang begitu indah.  Sayangnya hari itu kami tidak melihat pasir berterbangan dan menimbulkan sensasi suara berbisik,  karena basah setelah diguyur hujan dan kami cukup puas bisa berfoto dengan pemandangan alam yang indah.  Hingga saat ini Gunung Bromo menjadi tempat yang sakral bagi warga Tengger yang menghuni kawasan itu. Setiap tahun mereka melakukan upacara Kasodo, dengan melarungkan sesajen ke Gunung Bromo. Tahun ini, upacara itu akan dilakukan pada bulan Maret.

Akhirnya, kalau anda ingin menjelajahi Bromo, pastikan fisik anda prima, karena selain udara dingin yang menyengat, jalan mendaki juga harus ditempuh. (Uli)










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)