KEAJAIBAN THIBBUN NABAWI

Dr. Meity Elvina, M.Ked, SpOG, PGCert.

Mengenal Konsep Tubuh Sehat dalam Islam

Maas | Senin, 01 April 2019 - 11:00:29 WIB |

SESUNGGUHNYA Allah SWT telah membekali setiap tubuh manusia dengan kekuatan fitrah. Kekuatan fitrah ini dipahami sebagai konsep keseimbangan yang telah Allah SWT karuniakan kepada setiap makhluknya.

“Yang telah menciptakan kamu, lalu menyempurnakan kejadianmu, lalu menjadikan (susunan tubuh)mu seimbang.” 

(Q.S. Al Infithaar : 7)

Dalam ayat ini Allah Subhanahu Wa Ta’alamenjelaskan bahwa sesungguhnya manusia diciptakan penuh dengan kesempurnaan, tentunya tidak sama dengan makhluk lainnya yang telah diciptakan lebih dulu.

Itu artinya kesempurnaan yang dimaksud dalam Qs. At-Tiin (95):4, adalah keseimbangan. Dengan kesempurnaan dan keseimbangan ini, diharapkan manusia dapat memahami dengan akalnya bahwa manusia adalah makhluk terpilih yang mengemban tugas mulia  sebagai khalifah di muka bumi diciptakan tubuhnya secara seimbang.

Sebagai pembuktian tentang tauhid, ke-esaan dan kekuasaan Allah SWT. Hukum-hukum alam yang melahirkan kebiasaan-kebiasaan yang hakikatnya sudah diatur oleh Allah SWT Yang Maha Hidup lagi Dzat yang Qayyum (Maha Menguasai dan Maha Mengelola segala sesuatu) dengan

“keseimbangan”.

Hal ini membuat kita berpikir, karena sesungguhnya dalam penciptaan segala sesuatu di dunia ini, baik kejadian benda-benda langit; matahari, bulan dan bintang-bintang semuanya sudah dalam pengaturan sistem kerja yang sangat teliti dan sangat seimbang.

Salah satu contoh tentang  makhluk-makhluk Allah dalam kategori makhluk kecil bersel satu yakni; jasad renik (mikro-organisma) yang dalam perpektif manusia yang reduksionis (sempit), mereka kerap dijadikan sebagai penyebab malapetaka utama terjadinya penyakit Infeksi pada manusia.

Disinilah, perubahan perspektif tentang micro-organisma barangkali perlu diubah dengan sudut pandang dunia keilmuan ilmiah dengan kegiatan berfikir secara holistik islami.

 Berusaha berfikir "Out of the box" agar kita bisa belajar memandang suatu fenomena dengan perspektif yang lebih luas ( holistik). 

Apakah kita sudah faham bahwa pada diri kita sendiri  sebagai manusia, Allah telah menakdirkan jumlah micro-organisma yang tinggal di tubuh manusia dan hidup damai dimana jumlah mereka secara riset dewasa ini telah ditemukan bahwa microorganisme baik tinggal di tubuh manusia dengan junlah yang lebih banyak dari jumlah sel tubuh manusia itu sendiri? Sudah seberapa dzalim kah kita, dengan faham reduksionis (pandangan sempit) menyalahkan makhluk-makhluk yang berkategori jasad renik yang Allah ciptakan sebagai penyebab utama manusia jatuh sakit?

 Manusia  kerap memberikan label universal bagi mereka dengan label "Kuman Penyebab Penyakit". Padahal Allah SWT adalah Dzat dengan sifat Ar-Rahman & Ar Rahiim, tidaklah menciptakan segala sesuatu untuk menyakiti hamba-hamba-Nya, namun Allah lah yang telah menjamin keseimbangan yang tiada tertandingi termasuk menjadikan micro-organisma tersebut dapat hidup berdampingan secara komensal menjaga balance dan harmoni di tubuh manusia, baik di permukaan kulit, di saluran nafas, di saluran cerna dan di seluruh bagian tubuh manusia.

 Jangan biarkan lagi perspektif reduksionis ini membatasasi pola pikir kita jika suatu ketika ada suatu kelompok koloni mikro-organisme yang ditemukan massif dan dirasa menimbulkan ketidak-seimbangan di dalam tubuh (kita sebut sebagai penyakit), melahirkan alasan pembenaran kita untuk berusaha membuat senjata canggih pemusnah mikroorganisme berbentuk terapi intervensi  pemusnah canggih.

Manusia diberi kelebihan dari makhluk lain yang Allah ciptakan berupa Akal. Melalui optimalisasi fungsi akal /fungsi aqliyah kita sebagai manusia, bersandarkan kepada naqliyah (Al Quran dan Hadist), maka sepatutnya manusia dapat meninggalkan faham reduksionis untuk berfikir secara holistik.

 Bahwa tentang Keseimbangan dan harmoni yang Allah SWT telah titipkan sebagai fitrah tubuh manusia, sebenarnya manusia sendirilah yang merusak keseimbangan tubuhnya, karena ketidak fahaman dan keterbatasan ilmu dalam mempelajari tubuhnya sendiri.

Upaya-upaya menjaga keseimbangan tubuh manusia dapat diartikan sebagai upaya menjaga kesehatan yang holistik.

 Dimana Thibbun Nabawi adalah metode yang paling sempurna. Didalam metode ini sepatutnya kedokteran Islam dapat disandarkan, karena Tubuh manusia pun Allah ciptakan tidak hanya berupa jasad, namun Allah SWT telah menempatkan Ruh didalamnya.

Jika dewasa ini ilmu kedokteran kontemporer hanya mencari metode untuk menyembuhkan kesehatan jasadiyah, maka sesungguhnya Thibbun Nabawi lebih tepat menjadi metode kedokteran yang lebih sempurna, karena meliputi aspek holistik dan integratif antara penyehatan jasad dan penyehatan ukhrawi yang disandarkan kepada keimanan kepada ilahi Robbi *(ilahiyah)*, metode pengobatan yang memanfaatkan  sumber-sumber alam berupa ciptaan Allah *(alamiah)*, serta tetap menggunakan optimalisasi akal sebagai fungsi luhur manusia berupa pola pikir yang *ilmiah*.

Wallahu'alam bishawab.

Bunda ME

*Meity Elvina*

Pengawal Generasi Qurani (PGQ) (***)

 










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)