Berwisata Budaya ke Rumah Abunjani, Pejuang Jambi

By Maas, SH 13 Agu 2020, 21:29:56 WIB RAGAM
Berwisata Budaya ke Rumah Abunjani, Pejuang Jambi

Mediajambi.com - Digagas oleh Sakti Alam Watir, sejumlah wartawan senior melakukan kunjungan wisata budaya ke rumah peninggalan pejuang Jambi, Aboenjani di Telanaipura Jambi, Kamis (13/8). Rasa prihatin, sedih dan kecewa disuarakan Liwa Hamdi, Nasroel Yasir, Syahril Hanan, M Chudori dan Fitriani Ulinda, karena rumah megah dengan arsitektur dan interior etnik dan bernilai sejarah itu nyaris tak terurus. Kaca jendela rumah ada yang pecah, dan banyak ruangan yang terbengkalai. Halaman rumah yang luas dijadikan tempat parkir kendaraan roda dua dan roda empat bank milik Pemprov Jambi.

Meski dibangun pasca Kemerdekaan RI sekitar tahun 1962, namun rumah itu menyimpan banyak jejak sejarah dari keberadaan seorang Abunjani. Apalagi, rumah tersebut mengandung nilai estetis yang tinggi dan ornamen yang ada di dalamnya merupakan wujud kecintaan seorang Abunjani terhadap negerinya,Indonesia. Beberapa bagian dr rumah juga mencerminkan peringatan hari kemerdekaan 17 Agustus. Hal itu tergambar dari 17 unit kamar yang ada,  sebuah kolam renang yang berbentuk angka 8 dan  angka 45 merupakan jumlah dari objek manusia  yang berada di relief lukisan. Lukisan relief realistis karya perupa Jambi MS Hadi memenuhi seluruh sudut rumah, bahkan hingga ke dapur. Teralis jendela dan pintu pun mengandung nilai seni yang tinggi, bergambarkan seorang putri menggunakan pakaian adat Minangkabau.

Keberadaan rumah yang unik itu juga  menarik karena ada bunker dan helipad, kolam renang yang juga memiliki peluncur, kolam ikan dan halaman luas. Benda benda peninggalan kuno seperti piano, alat pemutar plat musik, foto foto dan benda benda antik lainnya juga masih terpajang rapi.

Rumah itu hanya dihuni oleh anak bungsu almarhum, Arman dan istrinya bersama sekitar 30 ekor kucingnya. Tidak mudah bagi Arman untuk mengurus rumah tersebut. "Kebetulan hanya saya dari 8 adik beradik yang ada di Jambi. Jadi sayalah yang tinggal disini," ujarnya. Tak ada biaya untuk mengurus rumah sebesar itu, sehingga banyak ruangan yang dibiarkan kosong. "Rencana mau dijual, tetapi belum jadi," katanya dengan nada sedih. Dia lebih berharap rumah yang banyak menyimpan kenangan bersejarah bagi keluarganya itu bisa dijadikan aset budaya, sebagai catatan sejarah bagi generasi penerus.

Penyair Jambi, Dimaz Agoes Pelaz menyuarakan kekecewaannya lewat puisinya. Dilantunkan tepat di depan pintu masuk rumah dengan penuh makna. Siapa pemusnah peradaban ini tanyanya. Membiarkan sejarah centang perenang. Bukti bukti historis miris. Orang orang berkacak pinggang menggambarkan angkara murka.

Siapa pemusnah peradaban ini, menganggap rumah sejarah tak bermakna, Memandang rumah perjuangan tak bertuan. Padahal tuan tuan terus membangun raga, lupa jiwa nestapa lara.

Sakti mengatakan sengaja mengajak kawan kawan wartawan dan seniman berwisata Budaya ke rumah tersebut,guna menggugah perhatian pemerintah provinsi Jambi untuk memperhatikannya. "Sangat disayangkan jika rumah ini tidak dimanfaatkan sebagai aset daerah yang bisa dijadikan objek wisata budaya," paparnya. Dia berharap, rumah itu bisa dipertahankan dan dijadikan cagar budaya. (lin)