Dampak Corona Purwandi Gantung Kamera Beralih Menjadi Petani Sayur

By Maas, SH 16 Nov 2020, 06:58:43 WIB USAHA
Dampak Corona Purwandi Gantung Kamera Beralih Menjadi  Petani Sayur

Keterangan Gambar : Purwandi fotografer acara pernikahan terpaksa menggantung kameranya dan beralih menjadi petani sayur organik.


PANDEMIC Covid 19 sangat berdampak bagi kehidupan banyak orang, termasuk Purwandi (41). Seorang fotografer acara pernikahan  terpaksa menggantung kameranya dan  beralih menjadi petani sayur organik.

Sejak Corona melanda, usaha fotonya kehilangan job. Nyaris tidak adanya resepsi pernikahan maupun wisuda, memaksanya untuk memilih usaha  berkebun demi memenuhi kebutuhan rumah tangganya.

Saat dijumpai Mediajambi.com, Jum,at (13/11/220) Purwadi kini setiap sore  sibuk  menyiram tanaman Sawi Pokcoy dan Sawi Bunga. Di tangannya, tanaman itu terlihat  begitu subur dan siap untuk dipanen lalu di jual.

"Ini hasil dari pandemi Covid-19, jika tak ada Covid mungkin saya tidak sampai bercocok tanam sayur jenis organik ini," kata suami dari Sunarti ini. Dia mengaku awalnya bingung mau berbuar apa. "Karena lambat laun tidak ada pesanan foto acara perkawinan kalau menunggu terus bisa- bisa dak ngepul  dapur dan tidak bisa bayar uang kuliah anak," kenangnya.

Kebetulan ada tanah kosong di belakang rumah, Purwadi berinisiatif  memanfaatkanya. Lalu dia belajar di YouTube cara bercocok tanam secara organik,. Dia  mencoba untuk membuka uzaha  budidaya sawi Pokcoi dan sawi Bunga.

Dengan modal sekitar Rp. 25 juta Purwadi membeli semua peralatan.

" Alhamdulillah 6 bulan lebih usaha bertanam sawi organik,walau belum banyak hasil penjualannya namun bisa membuat dapur ngepul," papar ya.

"Untuk masa tanam hingga panen, memerlukan waktu sekitar 25 hingga 30 hari, jika tiga baris itu bisa panen 5 hingga 6 kilo, " jelasnya. Saat ini dia sudah bisa panen setiap hari, dan untuk pemasarannya di jual langsung ke Pasar Angso Duo dan pasar Talang Banjar.   Harga jual sawi Pokcoi Rp 29.000 per kg, sedangkan sawi Bunga Rp. 15 hingga Rp 20 ribu perkgnya.

" Ternyata pandemi Covid-19 bisa juga membawa berkah dan Insyaallah bercocok tanam ini akan saya lakoni terus walau keadaan sudah membaik," ujar Purwadi dengan senyum sumringah. ( yeniti darma)