Dampak Covid-19, Penduduk Miskin di Provinsi Jambi Bertambah

By Maas, SH 16 Feb 2021, 11:08:51 WIB Ekonomi
Dampak Covid-19, Penduduk Miskin di Provinsi Jambi  Bertambah

Keterangan Gambar : Kepala BPS Provinsi Jambi Wahyudin


Mediajambi.com  Persentase penduduk  Jambi bertambah dalam rentang pada bulan Maret hingga September 2020. Hal ini disebabkan dampak dari pandemi Covid-19 yang berpengaruh terhadap seluruh lini.

Kepala BPS Provinsi Jambi Wahyudin mengatakan penduduk miskin pada September 2020 sebesar 7,97 persen meningkat 0,39 persen poin dibanding Maret 2020 yang sebesar 7,58 persen dan meningkat 0,46 persen poin dibanding September 2019 yang sebesar 7,51 persen.

“Perubahan Maret-September 2020, untuk di perkotaan naik sebesar 0,81 persen poin, sedangkan pedesaan naik sebesar 0,17 persen poin,” katanya dalam siaran pers secara virtual pada Senin, 15 Januari 2021.

Wahyuddin menyebutkan  jumlah penduduk miskin pada September 2020 sebesar 288,10 ribu orang, naik 10,3 ribu orang terhadap Maret 2020 dan naik 14,73 ribu orang terhadap September 2019.

“Persentase penduduk miskin pada September 2020 sebesar 7,97 persen, naik 0,39 persen poin terhadap Maret 2020 dan naik 0,46 persen poin terhadap September 2019,” sebutnya.

Sementara itu, terkait faktor-faktor yang mempengaruhi kemiskinan di Jambi disebabkan tingkat pengangguran naik pada Agustus 2020 sebesar 5,13 persen. Terjadi kenaikan sebesar 1,07 persen poin dibandingkan Agustus 2019 yang sebesar 4,06 persen.

“Sebanyak 252,88 ribu penduduk usia kerja terdampak Covid-19 pada Agustus 2020, dengan rincian 18,79 ribu penduduk menjadi pengangguran dan sebanyak 13,74 ribu penduduk tidak bekerja,” ungkapnya.

Peranan komoditi makanan terhadap garis kemiskinan yang lebih besar dibandingkan dengan komoditi bukan makanan (perumahan, sandang, pendidikan, dan kesehatan) baik untuk perkotaan maupun perdesaan.

“Sumbangan garis kemiskinan makanan terhadap garis kemiskinan pada September 2020 tercatat 74,64 persen, sementara di perdesaan jauh lebih tinggi yang mencapai 77,03 persen,” ungkapnya.

Wahyuddin menambahkan, komoditi makanan yang berpengaruh besar terhadap nilai garis kemiskinan perkotaan yang relatif sama dengan di pedesaan, di antaranya adalah beras, filter rokok kretek, cabe merah, telur ayam ras, daging ayam ras, gula pasir, mie instan, dan kue basah.

“Untuk komoditi bukan makanan, yaitu biaya perumahan, bensin, listrik, pendidikan, perlengkapan mandi, air, dan pakaian jadi,” sebutnya.

Pada periode Maret-September 2020, Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) dan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) menunjukkan peningkatan.

“Ini bahwa perkiraan rata-rata pengeluaran penduduk cenderung semakin menjauhi garis kemiskinan dan ketimpangan pengeluaran penduduk miskin menyebar,” pungkasnya. (mas)