Hasil PON XX/Papua 2021 dan Target Prestasi Olahraga Provinsi Jambi Kedepan

By Maas, SH 16 Okt 2021, 09:49:11 WIB Olahraga
Hasil PON XX/Papua 2021 dan Target Prestasi Olahraga Provinsi Jambi Kedepan

Keterangan Gambar : Endarman Saputra Kabid Binpres KONI Provinsi Jambi, 2018 – 2020. Dosen Olahraga, Universitas Jambi Saat ini sedang menempuh pendidikan Doktor di University of Lyon, Prancis


Pesta olahraga multi event terbesar ditanah air telah resmi ditutup pada 15 Oktober 2021, dengan posisi akhir Provinsi Jambi bertengger pada posisi 18. Jalan panjang dan berliku untuk mencapai prestasi optimal, harus dijalani, dipikirkan dan dikerjakan secara bersama.

Dalam tulisan ini, akan disampaikan beberapa hal yaitu, melihat kebelakang prestasi provinsi Jambi beberapa tahun terakhir, kendala-kendala yang dihadapi, dan usulan solusi untuk menghadapi PON yang akan datang di Aceh dan Sumut pada tahun 2024.

 

Berikut adalah pencapaian prestasi Provinsi Jambi dari tahun 2008 – 2021.

PON XVII/2008 Kalimantan Timur peringkat 15, dengan 11 emas, 17 perak, 28 perunggu.

PON XVIII/2012 Riau peringkat 24, dengan 3 emas, 8 perak, 20 perunggu.

PON XIX/ 2016 Jawa Barat peringkat 23, dengan 6 emas, 6 perak, 21 perunggu.

PON XX/2021 Papua peringkat 18, dengan 6 emas, 10 perak, 13 perunggu.  

 

Dari hasil tersebut, dapat dikatakan bahwa ada peningkatan meskipun tidak signifikan, kalau kita tarik prestasi Provinsi Jambi pada PON dari tahun 2008. Secara peringkat naik dari peringkat ke-23 pada PON tahun 2016 menjadi peringkat ke 18 pada PON 2021. Namun perolehan medali emasnya sama-sama enam keping. Hal ini menjadi bahan diskusi yang menarik, bagaimana ini bisa terjadi? Kenapa prestasi tidak seperti yang kita harapkan? Atau masih jauh dari target yang telah ditetapkan oleh pengurus KONI Provinsi Jambi periode 2020 – 2024.

Tentu saja jika ingin berada diposisi 10 besar, Provinsi Jambi harus mengumpulkan minimal 14 medali emas. Hal ini telah sesuai dengan apa yang telah ditargetkan oleh KONI Provinsi Jambi, namun hasilnya medali emas yang didapat bahkan tidak sampai separuhnya. Bisa dikatakan masih jauh dari target yang telah ditetapkan. Namun, itulah olahraga. Prediksi dan kenyataan kadang bisa meleset. Olahraga yang dikaji dan diterapkan adalah ilmu pasti, namun hasilnya tidak pernah pasti.

Tentu kita tidak boleh menyalahkan atlet dan pelatih, karena mereka sudah berbuat maksimal untuk Provinsi Jambi. Dan juga tidak bijak jika kita menyalahkan pandemi covid-19, karena seluruh dunia mengalami hal yang sama. Efektivitas pelaksanaan Pelatda, baik Pelatda berjalan maupun Pelatda inap atau Pelatda terpusat dirasa masih sangat jauh dari harapan. Baik dari segi waktu yang dibutuhkan, dukungan gizi atlet dan uang saku atlet dan pelatih yang masih banyak dikeluhkan.

Evaluasi pelaksanaan PON itu harus dilaksanakan secara komprehensif, dari hulu sampai hilir. Dari para pembuat kebijakan, seperti Pemerintah Provinsi, DPRD, dan KONI Provinsi Jambi, Pengprov Cabor, pelatih sampai kepada atlet dan dukungan non teknis.

Tidak perlu untuk saling menyalahkan dalam hal ini, banyak pertanyaan yang muncul dari masyarakat olahraga kita, bagaimana dukungan stakeholders ? apakah dukungan pemerintah dan DPRD sudah optimal? Apakah mereka telah membuat kebijakan yang benar-benar berpihak kepada cabang olahraga, atlet dan pelatih?

Disini saya akan menyoroti tentang kebijakan dana hibah yang diberikan oleh pemerintah dan disetujui oleh DPRD kepada KONI. Karena pendanaan olahraga adalah sesuatu yang sangat penting dan sebagai faktor kunci utama sebuah pembinaan olahraga. Menurut pandangan saya, pemerintah masih setengah hati dalam memberikan kepercayaan kepada KONI Provinsi Jambi untuk mengelola keuangan olahraga prestasi. Kepercayaan itu sangat penting, selain itu sinergi antara semua pihak juga akan menghasilkan prestasi yang kita harapkan. 

Kita ketahui bahwa, apabila dana tersebut dihibahkan kepada KONI tentu saja pengelolaan dana akan lebih fleksibel, sehingga kebutuhan untuk atlet dan pelatih dan biaya operasional cabang olahraga bisa terakomodir dengan pas sesuai dengan proporsinya. Sebagai contoh, untuk membeli atau pengadaan peralatan latihan dan tanding atlet akan lebih mudah jika melalui KONI. Selanjutnya, misalnya atlet akan dikirim untuk latihan keluar negeri atau kita akan memakai tenaga profesional dari luar yang standar penggajiannya tidak sesuai dengan peraturan pemerintah. Maka, jika dananya dikelola oleh KONI, maka kendala-kendala seperti itu tidak perlu terjadi.

Sedangkan, jika dana tersebut dikelola oleh pemerintah, maka pengelolaannya akan melalui proses birokrasi yang cukup berliku dan memakan waktu yang tidak sebentar. Dan semua harus mengikuti peraturan menteri keuangan dan peraturan gubernur tentang standar satuan harga. 

Sedangkan dalam olahraga agak kesulitan dalam mengikuti standar biaya tersebut, dan kadang jauh diatas harga standar.  Sebagai contoh, salah satu cabang olahraga ingin membeli peralatan dari luar negeri sedangkan barang tersebut tidak ada dalam standar satuan harga, bisa dibayangkan apa yang akan terjadi. Selanjutnya juga, jika KONI akan memakai konsultan dan pelatih dari luar Provinsi Jambi yang standar penggajiannya juga tidak sesuai dengan standar harga, maka sudah pasti hal ini akan sulit dilaksanakan.

Membangun koordinasi dan sinergi antara Pemerintah Provinsi, DPRD dan KONI, selanjutnya dengan Pengprov cabang olahraga harus ditingkatkan. Karena dengan ini diharapkan akan menghasilkan prestasi yang baik pula. Kedepan Pemerintah Provinsi dan DPRD harus secara bersama-sama dengan KONI dan cabang olahraga ditambah dengan tenaga-tenaga ahli  keolahragaan untuk menetapkan target-target yang akan dicapai dan dituangkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD). Target utama yang sudah didepan mata adalah PORWIL XI/2023 Aceh dan PON XXI/2024 Aceh – Sumatra Utara. 

Menuju PON XXI/2024 pintu masuknya adalah dengan mempersiapkan dengan sebaiknya atlet-atlet Provinsi Jambi untuk kejurnas pada tahun 2022. Saran saya adalah, pada bulan Januari tahun 2022 KONI Provinsi Jambi telah memulai Pelatda jangka panjang. Karena berawal dari sinilah kita akan membangun kekuatan menuju Kejurnas Pra PON pada tahun 2023.

Selanjutnya, disarankan agar seluruh atlet yang lolos PON XX/2021 baik yang memperoleh medali ataupun tidak, yang diberangkatkan ataupun tidak agar dipanggil dan dimasukkan kedalam Pelatda jangka panjang, jika masih memungkinkan untuk berlaga pada PON XXI/2024. Dan seterusnya, diberlakukan promosi dan degradasi didalam cabor. 

Menjelang tahun 2022 adalah waktu yang sangat krusial bagi KONI Provinsi Jambi dalam membangun komunikasi dengan pihak-pihak terkait, serta menetapkan program dan strategi-strategi apa yang akan dilaksanakan. Ini harus segera dilakukan karena tahun 2022 tinggal kurang lebih 2 bulan lagi.

KONI Provinsi Jambi sebagai salah satu pemangku kepentingan terhadap pembinaan olahraga prestasi harus bisa meyakinkan Pemerintah Provinsi dan DPRD terkait jaminan masa depan atlet, terutama atlet penyumbang medali. Jaminan masa depan ini sangat penting, supaya atlet dapat fokus berlatih. Jaminan itu bisa pekerjaan tetap menjadi ASN, tenaga kontrak atau pekerja pada BUMD dll.

Idealnya, Pemerintah Provinsi dan DPRD mempercayai pengelolaan keuangan kepada KONI secara utuh.  Selanjutnya, jika ini bisa dilaksanakan maka Diskepora sebagai leading sektor dalam pembinaan olahraga berhak untuk meminta laporan secara berkala terkait progress latihan, pencapaian-pencapaian prestasi dan penggunaan anggaran. Dalam hal ini integritas dan akuntabilitas sangat diperlukan dari masing-masing pihak. 

Pengprov cabor juga diharapkan terbuka dalam rekruitmen pelatih dan dalam seleksi atlet. Artinya mereka harus memberikan kesempatan kepada orang-orang yang potensial. Bagi pelatih yang selama ini belum berprestasi, ada baiknya juga untuk dilakukan evaluasi. 

Selanjutnya, yang tidak kalah penting juga adalah peningkatan kualitas tenaga keolahragaan. Pelatih, asisten pelatih dan tenaga pendukungnya harus ditingkatkan pengetahuannya, terutama dalam penerapan sport science dalam latihan dan bertanding. Pelatih dan asisten pelatih harus terus didorong untuk menerapkan sport science dalam mendukung pembinaan prestasi. Tanpa hal ini sepertinya akan jauh sekali untuk mengejar prestasi. Kita lihat sekarang bagaimana daerah-daerah atau provinsi lain terutama yang ada di pulau Jawa mereka sudah menerapkan sport science. 

Jika memungkinkan dan tersedia dana yang cukup, ada baiknya bagi atlet-atlet yang potensial untuk dikirim latihan diluar negeri atau untuk try out. Hal ini telah dilakukan oleh beberapa provinsi untuk meningkatkan motivasi dan pengalaman atlet.

PON yang akan datang sebaiknya seluruh atlet yang lolos harus diberangkatkan semua, tidak seperti PON XX/Papua 2021 yang hanya memberangkatkan 102 atlet dari 177 atlet yang lolos.

Karena tujuan utama dari PON itu tidak semata prestasi namun juga partisipasi dalam rangka menyatukan seluruh pemuda Indonesia dalam wadah olahraga. Ditambahkan juga bahwa, atlet yang lolos PON adalah yang terbaik di Provinsi masing-masing dan telah menjalani seleksi yang tidak mudah, sehingga mereka layak untuk diberangkatkan.

Terakhir, beberapa hal yang harus ditegaskan kembali adalah, tentang bagaimana sebuah target dibuat secara bersama-sama dengan berbagai pihak didukung dengan data yang akurat. Selanjutnya, adalah membuat perencanaan Pelatda jangka panjang yang detail sampai ke teknis pelaksanaan, dan perencanaan anggaran yang dibuat sebaik mungkin sehingga dapat meng “cover” segala kebutuhan Pelatda. Yang tidak kalah pentingnya juga adalah bagaimana menentukan atlet atau cabor yang diklasifikasi dengan skala priorotas. Dan tentu saja untuk mewujudkan itu semua, sebaiknya untuk pendanaan pembinaan prestasi diserahkan kepada KONI Provinsi Jambi dalam bentuk dana hibah.(***)




Loading....