Investasi di Masa ABK Mulai Menunjukkan Tanda Recovery

By Maas, SH 19 Jun 2020, 15:29:51 WIB Ekonomi
Investasi di Masa ABK Mulai Menunjukkan Tanda Recovery

Mediajambi.com - Setelah melewati masa PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) selama kurang lebih dua bulan di beberapa wilayah, Pemerintah Indonesia telah memutuskan memberlakukan adaptasi kebiasaan baru (ABK) di berbagai sektor. Kini, semua sektor secara bertahap kembali menjalankan kegiatannya dengan menerapkan protokol kesehatan yang telah ditetapkan Pemerintah.

Begitupun dengan investasi di berbagai bidang. Saatnya para investor melakukan peninjauan atas aset investasi yang dimiliki, meliputi bagaimana hasil investasi selama masa pandemi, dan melakukan penyusunan kembali alokasi aset investasinya. Berinvestasi di pasar modal, atau dikenal dengan investasi portofolio membutuhkan rebalancing atas portofolio secara berkala.Dalamkondisi normal, rebalancing biasanya dilakukan setiap enam bulan atau minimal setahun sekali. Namun, dalam kondisi khusus, seperti saat ini, rebalancing bisa dilakukan lebih cepat.

Apa itu rebalancing portfolio? Ini adalah strategi untuk menyesuaikan kembali antara target investasi dengan alokasi investasi. Setiap investor tentu memiliki target atau rencana atas investasinya. Misalnya, seorang investor memiliki tujuan mengumpulkan uang untuk persiapan pensiunnya pada10 tahun lagi. Selain itu, ia juga membutuhkan modal usaha untuk membangun hotel di tanah miliknya saat pensiun.Dengan menghitung dana yang dimiliki saat ia mulai berinvestasi, beserta dana yang akan secara berkala dialokasikan untuk investasi, dan dengan menghitung potensi return pada masing-masing produk investasi, maka ia mengalokasikan dananya sebanyak50% untuk diinvestasikan pada instrumen saham, 20% pada instrumen pendapatan tetap (obligasi), dan 30% dalam mata uang dolar Amerika.

Terjadinya wabah COVID-19 di seluruh dunia menjadi sebuah peristiwa bencana yang tidak diperkirakan sebelumnya. Semua sektor terkena dampak buruk. Sektor usaha riil banyak yang terpukul. Begitu pula pada sektor investasi portofolio di pasar modal. Nah, saat ini sudah mulai diberlakukan ABK. Pelaku usaha yang sempat menghentikan kegiatannya akan mulai beroperasi kembali. Perekonomian akan kembali menggeliat. Indikator investasi di pasar modal juga sudah mulai menunjukkan tanda recovery.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) sudah mulai menanjak sejak akhir Maret lalu. Investor bisa menghitung kembali berapa komposisi nilai aset yang saat ini ada di portofolio masing-masing. Mengacu pada contoh di atas, kemungkinan, alokasi saham yang awalnya 50% sudah menurun ke 30% karena harga-harga saham terkoreksi. Instrumen pendapatan tetap mungkin masih tetap 20%. Sementara, investasi pada mata uang dolar Amerika menjadi lebih tinggi, mungkin jadi 50%.

Apa yang harus dilakukan oleh investor? Pada contoh dia atas, ia bisa menukarkan mata uangdolar Amerika miliknya ke dalam mata uang rupiah dan membeli saham (menambah jumlah saham miliknya) agar posisi aset alokasi di mata uang dolar AS tetap sama sesuai rencana awal, yaitu 30%. Sementara, dengan penambahan jumlah saham, nilai aset saham kembali ke posisi 50% juga. Sehingga, alokasi portofolio menjadi sama seperti sebelum masa pandemi. Secara total, keseluruhan nilai dana investasi mungkin masih belum sama atau lebih rendah dibanding masa normal. Namun, alokasi investasi sudah kembali disesuaikan berdasarkan proporsi sebelumnya.

Saat ini, IHSG BEI masih di bawah angka ketika pandemi COVID-19 belum mewabah ke Indonesia. Pada pertengahan Januari 2020, IHSG BEI berada pada kisaran 6.325, yaitu titik tertingginya di tahun ini. Sementara, per 16 Juni, IHSG masih ada di posisi 4.986. Artinya harga-harga saham masih jauh di bawah ketika pandemi COVID-19 belum mewabah di Tanah Air atau rata-rata sekitar 21% di bawah harga sebelumnya. Ini tentu menjadi kesempatan baik bagi investor untuk bisa membeli saham dengan harga murah. Investor memiliki potensi keuntungan di atas 20% ketika kondisi perekonomian dan investasi kembali normal.

Potensi hasil investasi semakin besar ketika perekonomian kembali bertumbuh pesat. Dan seperti tren historis investasi di pasar modal, semakin panjang jangka waktu investasinya, maka semakin besar potensi return di masa depan.** (TIM BEI)