Masih Ada Sungai, Gunung dan Hutan (catatan 64 Tahun Provinsi Jambi)

By Maas, SH 05 Jan 2021, 14:34:51 WIB JAMBI TUNTAS
Masih  Ada Sungai, Gunung dan Hutan (catatan 64 Tahun Provinsi Jambi)

SEIRING dengan berjalannya waktu, terjadi  banyak perubahan di masyarakat daerah ini, baik fisik maupun non fisik, yang negative serta positif. Awalnya Provinsi Jambi terdiri dari Satu Kota dengan lima kabupaten (Tanjungjabung, Kerinci. Sarolangun Bangko., Bugotebo Tebo dan Batanghari). Kini ada dua kota (Kota Jambi dan Kota Sungaipenuh} dan sembilan kabupaten (Tanjungjabung Barat, Tanjungjabung Timur,  Batanghari, Muaro  Jambi, Sarolangn, Merangin, Tebo, Bungo dan Kerinci).

Di masa depan masih ada kemungkinan terjadi pengembangan wilayah. Misalnya Kabupaten Kerinci dijadikan dua kabupaten, Kerinci Hulu dan Kerinci Hilir. Tanjungjabung Barat tambah satu, yaitu Kabupaten Merlung, Muaro Jambi ditambah dengan Kabupaten Sungaibahar dan Kabupaten Tebo ditambah dengan Kabupaten Rimbo Bujang..

Di Kota Jambi perubahan yang agak kontras, misalnya Terminal Simpang Kawat yang sejak tiga  tahun lalu dijadikan Mall dan swalayan modern.  Apakah Mall modern tersebut merupakan kebutuhan masyarakat Kota Jambi?. Yang pasti,  tentunya adalah keinginan sebagian  elit di Pemerintah Kota Jambi.  Beberapa tokoh masyarakat berpendapat, lokasi bekas Terminal Simpang Kawat lebih cocok dijadikan Masjid atau fasilitas sosial lainnya.

Namun entah karena apa, Mall megah tersebut hingga kini masih belum berfungsi. DPRD Kota Jambi agaknya perlu membentuk tim khusus untuk menyelidiki atau menginvestigasi secara transparan permasalahan yang menimpa bekas Terminal Simpang Kawat tersebut. Masyarakat atau pihak manapun yang mengetahui permasalahan terminal tersebut agar melaporkannya kepada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Sebagai ilustrasi sekitar 30 tahun lalu, seorang tokoh pemuda UMNO Malaysia pada sebuah acara di Kualalumpur naik ke atas podium, sambil mengacungkan keris ke langit. Sang tokoh berucap “Siapa yang mengganggu UMNO berhadapan dengan saya”.  Keesokan harinya, tindakan pemuda tersebut ramai  jadi perbincangan di masyarakat. Beberapa tokoh partai menganggapnya  sebagai prilaku kesombongan. Lainnya menganggap contoh tindakan keangkuhan.

Bagaimana di Indonesia?. Masyarakat Jawa umumnya memakai keris dengan menyelipkan di pinggang belakang. Keris lebih mencerminkan benda pusaka, budaya dan barang seni. Sebagian orang Jambi memakai keris menyelipkannya di rusuk. Agak beda dengan Tugu Keris Siginjai di Kota Baru Kota Jambi yang gagah perkasa, tegak lurus menjulang ke udara. Apakah tugu tersebut semacam simbul dari sifat keangkuhan  atau kesombongan dari masyarakat Jambi. Di Mekkah, Arab Saudi, banyak juga jamaah yang berdo,a dengan mengangkat tangan sambil menengadah ke langit. Memohon kehadirat Allah.

Pengawasan, baik oleh DPRD maupun masyarakat terhadap aset-aset pemerintah dan keuangan pemarintah sungguh sangat dibutuhkan. Jika tidak, persoalan serupa bisa terjadi dengan Terminal Angkutan Kota Rawa Sari. Tidak tertutup kemungkinan terhadap lokasi Lapangan Persijam. Terminal angkutan kota Rawasari dan terminal angkutan antar kota Alam Barajo kondisinya kini masih memprihatinkan. Kurang mendapat perhatian yang layak dari pemerintah. Tbu, bapak dan saudara-saudara yang sempat datang, memanfaatkan terminal itu, harap maklum. Itulah faktanya.

***

PERUBAHAN lainnya yang juga perlu di kritisi adalah dipindahnya pasar rakyat, Pasar Angso Duo ke lokasi yang baru di sebelahnya. Pasar yang  dinilai lebih representatif ini ternyata juga memiliki sejumlah masalah yang bersumber dari produksi daerah ini. Sudah lebih 20 tahun, kolang kaling dan gula aren yang dijual di pasar ini bukan lagi produksi petani Jambi. Tepatnya, bukan berasal dari pohon aren yang tumbuh di Jambi, tapi dari Curup (Bengkulu) dan Sumbar. Sebelumnya kolang kaling dan gula aren banyak diproduksi dan Kumpeh, Kabupaten Muaro Jambi, Merangin dan Kerinci.

Tidak itu saja, berbagai jenis sayuran, semisal kentang, kol, sawi, buncis, terong dan cabai merah juga datang dari Curup, Lubuklinggau (Sumsel) serta Sumbar. Berbagai jenis ikan, baik ikan laut maupun ikan air tawar (patin, nila dan gurami) juga datang dari luar daerah. Begtu pula dengan kebutuhan daging. Sebagian ternak potong juga didatangkan dari luar provinsi. Hal serupa jaga terjadi dengan beras. Produksi pertanian daerah ini memang sudah lampu kuning, jika tidak bisa disebut lampu merah. Saatnya pemerintah provinsi dan kabupaten/kota bekerja keras mengejar/melengkapi kekurangan tersebut secara sungguh-sungguh, dengan memanfaatkan anggaran yang tersedia.

Gubernur dan wakil gubernur baru hasil Pemilukada 9 Desember 2020, setelah dilantik awal 2021 agar langsung injak gas. Misalnya, melakukan peremajaan tanaman aren rakyat yang telah mati karena usia atau ditebang diganti tanaman lain. Setiap kali berkunjung ke daerah membawa bibit aren untuk dibagikan kepada rakyat.              

Dana APBD Provinsi, kota/kabupaten yang lumayan besar bisa digunakan untuk membantu rakyat menggali atau pembangunan kolam ikan air tawar (nila, gurami dan Patin). Ada banyak lokasi yang cocok di Kabupaten Sarolangun, Merangin, Tebo, Bungo, Kerinci dan kabupaten lainnya  untuk dijadikan lokasi kolam ikan air tawar.

Sedangkan di sector peternakan pemerintah perlu melakukan terobosan dengan mengembangkan desa – desa peternakan. Misalnya ada satu desa yang cocok, 35 – 50 keluarga diberi ternak penggemukan dan gaduahan, masing-masing 5 – 7 ekor setiap kk. Dengan skala ekonomis seperti itu, ditambah pengawasan dan pembinaan yang ketat diyakini  peternak bekerja lebih sunggu-sungguh. Sementara untuk pertanian pangan, hortikultura dan perkebunan, para petani sudah cukup menguasainya, tinggal meningkatkan pembinaan dan penyuluhan. Yang juga penting adalah, menyediakan bibit tanaman yang unggul dan akses memperoleh pupuk. Infrastruktur ke lokasi pertanian tersebut mutlak dibenai agar produksi petani tidak terkendala pemasarannya.

***

PADA masa Orde Baru, terutama pada masa Gubernur Masjchun Sofwan dan Gubernur Abdurrachman Sayoeti pembangunan infrastruktur di Jambi  cukup bagus. Sebaliknya, pada era reformasi bisa dikatakan  mundur. Bahkan Gubernur Zumi Zola serta sejumlah anggota DPRD Provinsi Jambi ditangkap KPK karena terlibat korupsi.  

Ke depan, Gubernur/Wakil Gubernur, Bupati/Wakil Bupati dan Walikota/wakil Walikota, baik hasil Pemilukada 9 Desember 2020 maupun yang lama serta anggota legislative agar bekerja keras untuk kesejahteraan rakyat. Apapun permasalahan yang ada, baik positif maupun negatif, Jambi masih memiliki sungai, gunung dan hutan. Masih ada Sungai Batanghari dan anak-anaknya, Gunung Kerinci, Gunung Masurai. Juga hutan lindung, Taman Nasional Kerinci Sebelat (TNKS), Taman Nasional Bukit Tigapuluh (NTBT) dan Taman Nasional Berbak(TNB).

Tugas dari bapak-bapak, ibu-ibu serta kita semua untuk menjaga dan melindungi kelestariannya. Memanfaatkan untuk kesejahteraan rakyat. Kerusakan hutan akibat penebangan liar. Kerusakan lahan dan sungai  karena penambangan batu bara dan penambang emas secara liar sungguh luar biasa. Karena itu hruslah ada upaya yang sungguh-sungguh untuk menghentikan dan memperbaikinya karena itu adalh warisan anak cucu kita.

Sementara kepada para wartawan, “Jangan karena, segan, tidak sampai hati, janji atau imbalan dalam bentuk apapun dari pejabat, penguasa dan pengusaha anda menulis berita isapan jempol (bohong). Jika itu anda lakukan, saat itu juga anda bukan lagi seorang wartawan/jurnalis”. Tugas utama wartawan adalah menegakan kebenaran. Provinsi Jambi 6 Januari 2021 berusia 64 tahun. Dirgahayu.

Untuk semuanya saya kutip penggalan puisi karya Asrul Sani.

Surat dari Ibu

Pergi Ke dunia luas

Anakku sayang

Pergi ke hidup bebas

Selama angin masih angin buritan

Dan matahari pagi menyinari daun-daunan

Dalam Rimba dan Padang Hijau…

Nasrul Thahar/enteha