Musuh Bersama Itu Bernama Stunting

By Maas, SH 25 Feb 2021, 21:02:19 WIB RAGAM
Musuh Bersama Itu Bernama Stunting

Keterangan Gambar : Nopriansyah, SST, MSi (Statistisi Madya BPS Provinsi Jambi)


Presiden Jokowi sudah menargetkan angka stunting di Indonesia pada 2024 turun menjadi 14 persen. Angka ini memang tidak muluk-muluk mengingat angka toleransi yang ditetapkan oleh WHO 20 persen.

Bagaimana dengan Jambi? Gubernur Jambi juga menargetkan dalam RPJMD angka stunting Jambi di 2024 turun menjadi 14 persen. Hal ini sejalan dengan target yang telah di tetapkan oleh pemerintah pusat, artinya pengentasan stunting sudah menjadi konsen bersama, baik pusat maupun daerah.

Sebenarnya apa itu Stunting? Stunting dapat jelaskan sebagai kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat dari kekurangan gizi kronis, sehingga anak terlalu pendek untuk usianya. Stunting juga memiliki efek berkurangnya kognitif dan perkembangan fisik, serta menyebabkan kondisi kesehatan yang buruk. Anak yang terhambat pertumbuhannya memiliki peluang kelebihan berat badan atau obesitas di kemudian hari. 

Secara jangka panjang, stunting dapat menyebabkan adanya lost generation pada suatu komunitas atau Negara. Kenapa dibilang lost generation karena sumber daya manusia yang dihasilkan berkualitas rendah, ujung-ujungnya berimbas pada produktifitas yang rendah pula. 

Kondisi Stunting di Provinsi Jambi
Angka stunting Jambi tahun ke tahun terus menunjukkan penurunan, walaupun angkanya masih tinggi. Dari 2013 angka stunting Jambi turun sebanyak 16,90 persen, sekarang di angka 21,03 persen (angka 2019). Angka ini lebih rendah dibandingkan dengan angka Indonesia yang masih di kisaran 27,70 persen. 

Patut dibanggakan karena capaian pengentasan stunting di Jambi menunjukkan kemajuan yang sangat berarti, angka stunting jambi sudah mendekati angka toleransi WHO yaitu 20 persen. Tinggal selangkah lagi jambi bisa merengkuhnya.

Namun, jika sandingkan dengan target RPJMD yaitu 14 persen, angkanya masih cukup jauh. Perlu menurunkan stunting sebesar 7 persen lagi, agar target RPJMD ini dapat tercapai. Perlu optimisme dan kerja keras dari pemerintah daerah untuk mengejar target tersebut.

Selain angka prevalensi stunting, ada indeks khusus penanganan stunting (IKPS) yang dikeluarkan oleh BPS sebagai salah satu indikator keberhasilan penanganan stunting. IKPS merupakan indikator komposit yang disusun dari 12 indikator dalam 6 dimensi, yaitu dimensi kesehatan, dimensi gizi, perumahan, pangan, pendidikan dan perlindungan sosial. IKPS sendiri bisa dijadikan warning atas kinerja penanganan stunting di suatu daerah.

IKPS Jambi tahun 2019 di angka 61,03 masih di bawah angka Indonesia secara umum. Jambi juga termasuk 3 provinsi yang mengalami penurunan IKPS bersama Kepulauan Bangka Belitung dan Kepulauan Riau. Lumrahnya angka IKPS bergerak naik, selaras dengan penurunan angka prevalensi stunting, akan tetapi terjadi anomali pada IKPS Jambi. 

Prevalensi Stunting bersifat kronis, artinya bahwa kejadian stunting hari ini merupakan akibat dari kebijakan dan kinerja pemerintah pada masa yang lampau. Kinerja penanganan stunting yang dilakukan hari ini tidak serta merta akan terlihat hasilnya pada hari ini juga, akan tetapi bisa saja akan tergambar pada tahun-tahun berikutnya.

Kembali ke angka IKPS Jambi yang turun dan lebih rendah dibanding Indonesia, tidak akan langsung tergambar pada angka stunting pada tahun yang sama. Tetapi, nanti di kemudian hari, dengan catatan apabila kinerja penangangan stunting tidak kunjung diperbaiki atau dilakukan secara biasa-biasa saja as business as usual. 

Kebijakan Penangangan Stunting
Pertanyaannya: bagaimana cara menurunkan prevalensi Stunting? Ada dua kebijakan intervensi yang dapat dilakukan, yaitu Intervensi gizi spesifik dan Intervensi gizi sensitif.  Intervensi gizi spesifik merupakan intervensi yang ditujukan kepada anak dalam 1000 hari pertama kehidupan (HPK). Intervensi gizi spesifik berkontribusi 30 persen penurunan prevalensi stunting. Intervensi gizi sensitif dilakukan melalui berbagai kegiatan pembangunan di luar sektor kesehatan. Kontribusinya 70 persen penurunan prevalensi stunting.

Untuk jangka pendek, kebijakan intervensi gizi spesifik efektif untuk menurunkan angka stunting. Kegiatan intervensi gizi spesifik dapat dilakukan dengan memberikan konseling tentang menyusui, konseling tentang MP-ASI, pemberian micronutrient, pemberian obat cacing, zat besi, vitamin A, Garam Yodium, pemberian tablet kalsium untuk ibu hamil dan pendekatan perbaikan gizi lainnya. 

Dalam pelaksanaan kebijakan intervensi spesifik, agar dapat berjalan efektif, data tentang ibu hamil dan anak baduta harus benar-benar akurat. Kader posyandu, bidan desa, para RT, dan pegawai puskesmas harus dilibatkan secara aktif dalam mendata semua ibu hamil dan baduta di daerahnya masing-masing. Keakuratan data ini akan menjamin program intervensi tepat sasaran.

Untuk jangka panjang, kebijakan intervensi sensitif harus terus digenjot. Perlu adanya integrasi dan sinergitas semua sektor dalam program pembangunan. Penetapan locus program merupakan langkah awal yang harus dilakukan oleh pemerintah, agar program tepat sasaran. Setelah locus ada, maka program pembangunan dari semua instansi dapat diarahkan kesana.

Intervensi gizi sensitif yang dapat dilakukan meliputi pembangunan sektor pertanian dan ketahanan pangan, pemberian jaminan sosial dan kesehatan, program perlindungan sosial, penyediaan akses pada air bersih dan sanitasi, menyediakan layanan kesehatan dan KB, pemberian pendidikan pengasuhan pada orang tua, pemberian edukasi kesehatan seksual dan reproduksi serta gizi pada remaja.

Semoga dengan sinergitas semua pemangku kebijakan ditambah dengan kesadaran masyarakat yang semakin baik, prevalensi stunting Jambi dapat diturunkan sesuai target yang ingin dicapai. Salam.(***)