Desa Cantik, Desa Cinta Statistik

By Maas, SH 06 Jul 2021, 11:13:23 WIB DAERAH
Desa Cantik, Desa Cinta Statistik

Keterangan Gambar : Ilustrasi Desa Cantik, Desa Cinta Statistik


DALAM pidato Presiden RI pada peringatan hari Sumpah Pemuda ke-9 tanggal 28 Oktober 2020, Presiden Jokowi menyampaikan bahwa untuk mewujudkan Indonesia yang satu kita juga harus bekerja sama membangun Indonesia secara adil dan merata, membangun Indonesia-sentris dengan membangun dari pinggiran, dari desa, dari pulau terdepan hingga perbatasan. Dari pidato tersebut jelas bahwa presiden Jokowi menginginkan pembangunan dimulai dari desa sebagai satuan wilayah terkecil didaerah, dengan pembangunan yang dimulai dari desa, diharapkan pembangunan yang dilaksanakan sesuai dengan kearifan lokal yang ada di desa, dan sesuai dengan kebutuhan dari desa tersebut.

Hal diatas juga sejalan dengan kebijakan nasional yang diambil pemerintah sebagai arah pembangunan. Begitu juga pada Nawacita ke-3 pada visi dan misi presiden Jokowi, pemerintah berkomitmen kuat untuk membangun Indonesia dari pinggiran. Pada RPJMN 2020-2024, desa mandiri menjadi target prioritas pembangunan, desa menjadi subjek dan ujung tombak pembangunan. Ditambah lagi dengan Undang-undang Nomor 16 Tahun 2014 tentang Desa, diperlukan pemanfaatan data melalui sistem informasi desa dalam proses pembangunan desa yang baik.

Berdasarkan hasil pendataan Potensi Desa (Podes) Tahun 2018 yang dilaksanakan oleh BPS, jumlah desa/kelurahan yang ada di Indonesia sebanyak 83.931 desa/kelurahan, naik sebanyak 1.741 desa/kelurahan dibandingkan dengan data tahun 2014, atau terjadi pertambahan sejumlah 436 desa setiap tahunnnya. Untuk Jambi sendiri, jumlahnya ada 1.562 desa/kelurahan, ini juga masih sama dengan kondisi jumlah desa/kelurahan pada akhir tahun 2020. Kabupaten di Jambi yang mempunyai desa/kelurahan terbanyak adalah Kabupaten Kerinci 287 desa/kelurahan, dan yang paling kecil adalah Kota Jambi 62 desa/kelurahan.

Dapat kita bayangkan, jika desa yang sebanyak itu telah memiliki data yang akurat baik mengenai kependudukan, potensi ekonomi, potensi sosial budaya, pariwisata, sampai kebencanaan, maka dapat dipastikan bahwa pembangunan di Indonesia akan dapat terlaksana dengan baik. Pembangunan yang dilaksanakan akan benar-benar sesuai dengan kebutuhan dari desa yang bersangkutan.

Dari data Podes 2018, diketahui bahwa 31,95 persen desa belum memiliki sistem informasi desa (SID), dan bahkan di Jambi hampir semua desa (99,50 persen) belum memiliki SID. Fakta ini menerangkan bahwa manajemen data di tingkat desa memang masih perlu diperbaiki, agar data yang ada dapat terdokumentasi dengan baik melalui sistem informasi yang ada. Bukan hanya manajemen datanya saja yang menjadi target perbaikan, akan tetapi kualitas data yang dihasilkan dan disajikan juga harus benar dan valid sesuai dengan konsep dan definisi yang diperlukan.

Dengan ditetapkannya desa sebagai subjek dan ujung tombak pembangunan dimana seperti disebutkan sebelumnya bahwa pembangunan desa merupakan salah satu prioritas dalam RPJMN, maka data di tingkat desa menjadi semakin penting dalam mewujudkan pembangunan yang lebih baik. Seperti diketahui bahwa data dan informasi merupakan landasan pengambilan kebijakan agar sesuai dengan sasaran yang ingin dicapai. Kebijakan efektif dihasilkan dari data yang valid dan berkualitas, sedangkan data yang valid dan berkualitas dapat terwujud dari kesadaran dan tingginya tingkat literasi statistik.

Bagaimana caranya meningkatkan literasi statistik pada tingkat desa? caranya tidak lain dan tidak bukan adalah dengan melakukan pembinaan statistik. Badan Pusat Statistik sebagai lembaga pemerintah yang melaksanakan tugas pemerintahan di bidang statistik sesuai dengan peraturan perundang-undangan merasa tertantang dan terpanggil untuk menjadi pelopor dalam kegiatan pembinaan statistik di tingkat desa. Tidak tanggung-tanggung pembinaan statistik di tingkat desa ini sudah menjadi Quick Win mandiri Badan Pusat Statistik dengan nama Desa Cantik, Desa Cinta Statistik.

Program Desa Cantik sendiri mempunyai konsep untuk melaksanakan peningkatan literasi statistik pada perangkat/komunitas desa, kemudian mendekatkan konsep kegiatan statistik kepada praktisi di level desa, selanjutnya desa mampu mengidentifikasi kebutuhan dan mengetahui cara mendapatkan data-data itu, desa mampu menetapkan tujuan penyelenggaraan statistik di level desa, dan juga mampu mengimplementasikan kaidah statistik dengan benar pada level desa itu sendiri.

Untuk tahap pertama, ditetapkan 100 Desa Cantik dari seluruh provinsi di seluruh Indonesia sebagai proyek percontohan pelaksanaan pembinaan statistik di tingkat desa. Di Jambi sendiri ada 3 desa yang termasuk dalam 100 desa cantik tersebut, yaitu Desa Pinang Merah di Kabupaten Merangin, Kelurahan Sengeti di Kabupaten Muaro Jambi dan Kelurahan Eka Jaya di Kota Jambi. Dari setiap kabupaten yang ada desa cantik tersebut, ditetapkan 2 orang yang akan menjadi pembina desa cantik, yang nantinya berperan sebagai ujung tombak BPS untuk melakukan pembinaan statistik kepada desa.

Kedua pembina desa cantik tersebut akan dilatih oleh Pusdiklat BPS baik dalam hal berkomunikasi maupun terkait literasi statistik sehingga mampu untuk melakukan pembinaan kepada desa. Setelah dilatih, pembina statistik desa akan mengidentifikasi kebutuhan pembinaan statistik yang diinginkan desa dengan cara menggali informasi atas kapasitas statistik di desa tersebut. Selanjutnya dilaksanakan pembinaan statistik kepada desa berdasarkan kebutuhannya, pembinaan yang dilakukan bersifat fleksibel dan tidak mengikat terhadap desa. Dari hasil pembinaan ini diharapkan mendorong terbentuknya komunitas statistik di desa tersebut, yaitu komunitas yang melek akan statistik.

Kehadiran program Desa Cantik ini, diharapkan memberikan banyak manfaat bagi desa/kelurahan, seperti monografi desa yang selama ini sering sekali tidak termoderenisasi dan terupdate, nantinya akan tersedia dengan baik.  Semua pihak yang membutuhkan data-data dasar yang ada di monografi desa tidak perlu bersusah payah lagi karena datanya sudah tersedia di dalam monografi desa. Kemudian juga nantinya akan terbentuk manajemen data yang baik di tingkat Desa, tidak ada lagi duplikasi data dan akhirnya tercipta tingkat kesadaran statistik yang tinggi dari perangkat/komunitas desa itu sendiri.

Menurut Presiden Jokowi dalam pencanangan SP2020, data adalah jenis kekayaan baru. Saat ini data adalah new oil, bahkan lebih berharga dari minyak. Data yang valid merupakan kunci utama kesuksesan pembangunan sebuah Negara. Bayangkan jika di tingkat desa saja data yang dihasilkan sudah akurat, sudah barang tentu perencanaan pembangunan akan terarah dengan baik, keputusan yang diambil pemerintah akan tepat dan eksekusi program menjadi tepat sasaran.

Semoga dengan kerja sama semua pihak, program Desa Cantik, Desa Cinta Statistik ini dapat berjalan dengan baik, dan membawa masa depan desa semakin maju. Salam

Penulis :
Nama: Nopriansyah, SST, MSi
Jabatan : Statistisi BPS Provinsi Jambi