Geliat Sektor Akomodasi Jambi di Masa Pandemi

By Maas, SH 29 Apr 2021, 14:38:37 WIB DAERAH
Geliat Sektor Akomodasi Jambi di Masa Pandemi

Keterangan Gambar : Nopriansyah, SST, MSi Statistisi BPS Provinsi Jambi


Di tahun 2020, Sektor akomodasi termasuk sektor yang sangat terpukul karena adanya pandemi Covid 19. Bagaimana tidak, di masa pandemi ini orang-orang dihimbau pemerintah untuk tidak bepergian atau keluar rumah untuk keperluan yang tidak sangat mendesak sehingga tidak memungkinkan untuk dapat mengakses sektor akomodasi. Begitupun orang-orang yang sudah jauh hari merencanakan untuk berwisata segera harus mengurungkan niatnya, ditambah lagi perjalanan dinas dan rapat-rapat ASN yang seringkali dilakukan di hotel-hotel juga tidak jadi dilaksanakan dikarenakan anggaran yang banyak difokuskan untuk penangangan pandemi.

Akomodasi yang dimaksud disini, menurut BPS adalah usaha yang menggunakan bangunan atau sebagian bangunan yang disediakan secara khusus dan setiap orang dapat menginap, makan serta memperoleh pelayanan dan fasilitas lain dengan pembayaran secara harian. Secara garis besar akomodasi dibedakan menjadi hotel berbintang dan usaha akomodasi lainnya. Akomodasi lainnya ini termasuk juga wisma penginapan, losmen dan bungalow.

Pembatasan kegiatan di luar rumah yang diterapkan pemerintah tersebut, baik berupa pembatasan sosial berskala besar (PSBB), pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) berskala mikro jawa dan bali, termasuk pembatasan jam malam, serta merta sangat mempengaruhi kinerja sektor akomodasi. Seperti diketahui bahwa sebagian besar pengunjung hotel adalah tamu yang berasal dari luar kota atau luar daerah, kemudian ketika ada pembatasan kegiatan ke luar ataupun masuk suatu daerah, sudah barang tentu menurunkan tingkat okupansi hotel, artinya akan banyak kamar-kamar hotel yang kosong.

Sebenarnya fakta ini terlihat sekali pada kondisi perekonomian Jambi pada Tahun 2020. Dampak pandemi Covid 19 menggiring laju pertumbuhan ekonomi Jambi mengalami kontraksi -0,46 persen dibanding tahun 2019. Sektor yang paling besar terdampak adalah sektor transportasi dan pergudangan (-14,43 persen), diikuti oleh sektor akomodasi dan makan minum terkontraksi -6,83 persen. Jelas, sektor akomodasi menjadi sektor yang sangat terpukul atas dampak pandemi Covid 19.

Puncak dampak pandemi pada sektor akomodasi di Jambi terjadi di bulan April dan Mel 2020 dimana angka tingkat penghunian kamar (TPK) berada di titik 15,68 persen dan 15,73 persen. Angka TPK ini didapatkan dengan membagikan jumlah malam kamar yang terpakai dibagi dengan banyaknya malam kamar yang tersedia. Apabila dibandingkan dengan TPK April 2019 yang mencapai 42,42 persen, maka angka penurunannya sangat tinggi sekali. 

Sebenarnya bila dibandingkan dengan TPK nasional di bulan April (12,67 persen) dan Mei 2020 (14,45 persen), angka TPK Jambi masih lebih baik artinya bahwa keterpurukan sektor akomodasi di Jambi belum separah yang dialami sektor akomodasi Nasional walaupun memang penurunannya tetap searah dengan yang dialami nasional. Akan tetapi bila dibandingkan dengan Sumatera Selatan sebagai tertangga terdekat, angka TPK Jambi masih lebih rendah dari Sumsel, dimana TPK Sumsel di April 19,43 persen dan Mei 18,94 persen. Fakta menambah jelas, akan terpuruknya sektor akomodasi di Jambi.

Pada awal bulan Juni 2020, pemerintah mulai menerapkan fase new normal di tengah kondisi jumlah penderita Covid-19 yang terus meningkat. Pemerintah gencar mengampanyekan perilaku 3M yaitu memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak, agar masyarakat dapat terhindar dari terjangkit Covid-19.  Di sektor perhotelan juga ditetapkan beberapa protokol kesehatan yang harus dipatuhi agar dapat beroperasi di masa pandemi, selain 3M, ada juga pengecekan suhu tubuh pada setiap orang yang mau masuk hotel, serta penyemprotan desinfektan di kamar, ruang umum dan tempat makan yang ada di hotel.
Penerapan skenario new normal ini, memberikan angin segar bagi sektor akomodasi, terbukti dengan angka TPK Jambi yang berangsur naik.

 Berdasarkan data BPS, angka TPK Jambi di bulan Juni 2020 naik menjadi 25,32 persen, meningkat hampir 10 persen dibandingkan dengan TPK Mei 2020. Peningkatan ini begitu signifikan dan menandai mulai menggeliatnya kembali sektor akomodasi di Jambi, bahkan di akhir tahun 2020 angka TPK Jambi sudah mencapai 40,74 persen, walaupun memang angka tersebut belum dapat mendongkrak pertumbuhan ekonomi di sektor Akomodasi dan Rumah Makan.
Dari fakta-fakta diatas, sektor akomodasi mempunyai pekerjaan rumah yang cukup berat untuk dapat meningkatkan kinerjanya di Tahun 2021 ini. Proses bisnis perhotelan yang standar tidak dapat sepenuhnya diterapkan pada masa pandemi seperti sekarang ini, dibutuhkan inovasi-inovasi yang disesuaikan dengan protokol kesehatan yang memberikan rasa nyaman kepada pengunjung dan pengguna jasa hotel. Kesiapsiagaan hotel dalam menghadapi pandemi menjadi salah satu daya tarik hotel, dan ini bisa menjadi bahan promosi hotel itu sendiri.

Selain itu, agar pengunjung tertarik menginap di hotel, perlu dibuat paket-paket liburan dan menginap yang menarik, terutama pada promo harga kamar yang biasanya sangat menentukan ketika seseorang memilih mau menginap dimana. Begitupun untuk menekan pengeluaran, hotel-hotel juga perlu melakukan efisiensi pada fasilitas-fasilitas yang jarang terpakai ataupun yang tidak terpakai sama sekali, sampai keadaan kembali normal.
Kita semua berharap pandemi Covid 19 ini dapat segera berakhir, sehingga roda perekonomian Jambi dapat berputar dengan baik. Butuh kerjasama yang baik dari semua pihak, baik pemerintah sebagai pengambil kebijakaan, swasta sebagai motor perekonomian dan masyarakat. Ketika semua pihak komitmen untuk menangani pandemi ini, maka tidak mustahil pandemi Covid 19  akan segera berakhir. Salam.