In memoriam Kritikus Olahraga Itu Telah Pergi

By Maas, SH 27 Jun 2021, 07:58:35 WIB Olahraga
In memoriam  Kritikus Olahraga Itu Telah Pergi

Kepergian H Asnawi Nasution pada hari Jumat, 25 Juni 2021 jam 1.07 wib di RS Raden Mattaher meninggalkan duka yang mendalam bagi saya dan dunia olahraga Jambi. Seorang bapak yang patut disebut tokoh olahraga Jambi, tidak hanya karena kiprahnya di dunia olahraga tetapi karena perhatiannya terhadap kemajuan prestasi olahraga Jambi. Kita kehilangan sosok yang kritis. Kekritisan beliau soal pembinaan olahraga hingga saat ini belum ada penggantinya. Beliau berani mengkritik namun juga mendukung jika program yang dilakukan dinilainya baik. Terakhir, usai menjadi komisaris Bank Jambi beliau menelpon saya, juga mengulas soal olahraga Jambi. Hingga terbetik lah niat beliau untuk menulis buku tentang pembinaan olahraga di Jambi dan meminta saya untuk membantunya. "Nanti saya siapkan dulu bahan bahannya ya," katanya. Namun kesehatan beliau terus menurun dan saya tidak pernah lagi bisa bertemu. 

Kiprah Asnawi Nasution di dunia olahraga tidak diragukan lagi. Mantan anggota DPRD Provinsi Jambi ini  pernah menjadi Ketua Harian PB Persani dengan H Zulkifli Nurdin sebagai Ketua Umum. Untuk dua periode menjadi Ketum Pengprov Persani Jambi yang mendorong majunya cabor senam Jambi dan berjaya di tingkat nasional maupun internasional. 

Saya memiliki keterikatan emosional dengan beliau. Karena beliaulah yang mengajak saya masuk ke organisasi KONI Provinsi Jambi tahun 2005 lalu dengan Ketum KONi ketika itu Gubernur Jambi, H Zulkifli Nurdin dan almarhum salah satu formatur. Suatu hari beliau menelpon saya. "Fitri, pak Zul (Gub Jambi) meminta saya menghubungi kamu dan pak Nasrul Tahar (Kompas) agar bersedia menjadi pengurus KONI Provinsi Jambi," katanya. Saat itu saya adalah wartawan Sriwijaya Post liputan olahraga dan memang sudah sering berkomunikasi dengan beliau, baik sebagai anggota dewan maupun pengurus olahraga. Secara bersamaan saya juga saat itu menjadi wakil bendahara di Pengprov Pertina Provinsi Jambi bersama alm H Soewarno Soerinta sebagai Ketum dan Alm H Fauzi Siin Wakil Ketua.

Setelah minta izin ke kantor tempat saya bekerja, sayapun akhirnya bergabung dengan KONI Provinsi Jambi dan ditempatkan sebagai wakil Ketua Bidang Media dan Komunikasi. Ketua Bidangnya ketika itu adalah bapak Mislan Wair. Sedangkan Ketua Harian adalah dr Hentyanto Hendardji, Wakil Ketua, H Nasrun Arbain dan Sekretaris Koni, H Hasan Basri Agus, mantan Gubernur Jambi yang sekarang adalah Anggota DPR RI. 

Usai dilantik dia berpesan kepada saya agar tetap kritis dalam berorganisasi dan jangan ikut partai apapun.  "Tetap kritisi kalau ada kebijakan yang tidak benar. Biarlah ribut di dalam demi menghasilkan keputusan yang terbaik. Kalau mau terjun ke politik, tinggalkan KONI ya, olahraga dan politik tidak bisa disatukan," begitu pesannya. 

Sejak itu meski menjadi anggota KONI Provinsi Jambi saya tetap menjalankan tugas saya sebagai wartawan olahraga. Dan beliau menjadi pengamat olahraga yang sellau kritis, bahkan saya beberapa kali dipanggilnya karena melihat adanya kebijakan yang dinilainya tidak layak. Seperti persiapan PON XVII tahun 2004 di Kaltim yang akan memberangkatkan semua atlet lolos PON. "Ini ajang uji prestasi bukan untuk jalan jalan," katanya. Dan ketika pulang PON almarhum habis habisan mengkritik hasilnya. "Inilah sejarah PON paling kelam untuk Jambi. Membawa kontingen sampai 215 orang, hasilnya hanya 11 keping emas dan posisi Jambi merosot, terlempar dari 10 besar," katanya ketika itu. Hampir semua media lokal ketika itu memberitakannya.

Sementara PON Kaltim mulai dari persiapan hingga keberangkatan ketika itu menelan anggaran dana APBD  dan bantuan pengusaha hingga Rp 45 miliar. Padahal Jambi pernah menempati ranking 6 besar, di PON XVI tahun 2004 di Sumatera Selatan. Dengan perolehan  27 emas, 27 perak dan 12 perunggu. Sejarah kelam yang kembali terulang di PON XVIII tahun 2012 juga disorotnya, karena Jambi saat berada di peringkat 24 dengan hanya meraih 3 medali emas, 8 perak dan 20 perunggu.

Dan saya juga menjadi pengurus KONI berikutnya ketika itu.

Selain kritik dia juga membarengi dengan solusi atau  ilmu, karena beliau hobi membaca.

Dia selalu mengingatkan perlunya sport inteljen dan IPTEK dalam pembinaan olahraga. "KONI sudah harus punya sport intelijen, sehingga bisa mengetahui siapa lawan, seperti apa kekuatannya, dimana kelemahannya dan apa yang harus kita persiapkan," jelasnya. Dalam pembinaan olahrgaa juga hendaknya memanfaatkan IPTEK sehingga latihan atlet terukur dan bisa dipertanggungjawabkan. 

Sebelum menentukan target pengurus KONI  juga harus memperhitungkan cabang-cabang olahraga terukur dan tidak terukur, juga cabang perorangan atau beregu. Penentuan target yang realistis menurutnya yakni hasil dari Kejurnas/Pra PON. "Jangan mengirim atlet karena faktor kedekatan emosional pengurus, tapi ada standar dan aturan yang benar," tegasnya.

Karena itulah kata Asnawi pengurus cabor dan KONI haruslah orang paham dan berpengalaman mengurus olahraga. "Dunia olahraga hendaknya dipimpin oleh ahli dibidangnya. KONI bukan jembatan percaturan politik," katanya ketika itu.

Jambi katanya harus fokus dalam pembinaan olahraga. Dia setuju adanya pembinaan cabor prioritas dan non priorotas. Tidak perlu banyak cabor untuk dibina, karena domain KONI membina olahrgaa prestasi.  Selain membuang waktu, juga membuang dana yang tidak sedikit.

Dan satu hal lagi yang selalu saya ingat pesan beliau adalah, tidak ada pembinaan olahraga yang instan. Semua harus terencana, dan komprehensif. 

Selamat jalan pak...

Terima kasih untuk semua ilmu, dan kebaikan yang diberikan. Insya Allah semua menjadi pahala yang akan mengalir hingga Jannah. (Fitriani Ulinda)