Masker Dapat Lindungi Diri dari Covid Namun Sulitkan Teman Tuli Jambi Komunikasi

By Maas, SH 29 Agu 2021, 14:33:46 WIB RAGAM
Masker Dapat Lindungi Diri dari Covid Namun Sulitkan Teman Tuli Jambi Komunikasi

Mediajambi.com- Masker jadi kendala besar bagi teman tuli di Jambi untuk berkomunikasi. Sementara saat pandemi Covid-19 semua orang diwajibkan menggunakan masker.

Ketua DPP Gerkatin (Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia) Provinsi Jambi, Angga Nikola Fortuna mengatakan teman tuli berkomunikasi dengan membaca gerak bibir lawan bicaranya. Salah satu solusi agar teman tuli bisa berkomunikasi saat pandemi adalah dengan menggunakan masker transparan.

“Masker transparan memang agak mahal. Sekarang kami membutuhkan masker transparan agar bisa mengerti ucapan lawan bicara tanpa buka masker,” ungkap Angga dalam Diskusi “Suara Teman Tuli dan Problematikanya”, Sabtu (28/8).

Angga juga mengungkapkan persoalan vaksin yang dihadapi teman tuli. Banyak teman tuli yang belum melakukan vaksin karena takut dan butuh pendampingan untuk melakukan vaksin.

“Sampai sekarang PPKM, teman tuli baru sadar sendiri. Sulit untuk mendapatkan kerja karena harus ada sertifikat vaksin,” ujarnya.

Persoalan kerja juga jadi permasalahan bagi teman tuli padahal ada banyak potensi dari teman tuli yang berguna dalam dunia kerja. Tidak banyak perusahaan yang mau mempekerjakan teman tuli sementara usaha saat pandemi pendapatannya menurun.

Salah satu cafe yang mempekerjakan teman tuli di Jambi ada Kopi Ketje yang berada di kawasan Jelutung.

Heny, selaku owner Kopi Ketje Jambi mengaku memang butuh waktu untuk mempekerjakan teman tuli di cafe miliknya terlebih masalah komunikasi.

Namun baik karyawan ataupun teman tuli bisa sama-sama saling belajar hingga akhirnya masalah komunikasi tidak jadi halangan.

“Kita belajar dari teman tuli karena potensi mereka sangat luar biasa. Mereka sangat tekun dalam bekerja. Kita berusaha untuk menganggap mereka sama,” ucap Heny.

Saat ini ada 7 orang teman tuli yang bekerja di Kopi Ketje. Kedepannya ia sedang mempersiapkan cafe baru dan tetap akan mempekerjakan teman tuli.

“Saat pandemi covid ini semua usaha besar atau kecil kena dampaknya. Namun apa yang bisa kita lakukan untuk Jambi ini. Setelah berbincang sama suami jadi kepikiran untuk memperkerjakan kawan-kawan disabilitas,” ungkapnya.

Dalam Diskusi “Suara Teman Tuli dan Problematikanya” juga hadir Ketua Jurusan Tunarungu Wicara SLBN Sri Soedewi Jambi, Andam Litasari.

Ia menyampaikan saat pandemi semua pembelajaran tidak semaksimal tatap muka. Terlebih bagi anak berkebutuhan khusus yang membutuhkan perhatian lebih. Pembelajaran saat ini hanya menggunakan aplikasi zoom. 

“Kadang kita jadwalkan untuk tatap muka hadir di sekolah namun saat PPKM Level 4 tidak bisa lagi karena risiko yang besar,” ujarnya.

Saat ini jumlah guru SLB ada 122 orang dengan siswa 365 orang.

Kesulitan saat pandemi juga dirasakan para atlet disabilitas. Atlet disabilitas berada di bawah naungan National Paralympic Committee (NPC) Kota Jambi.

Sekretaris NPC Kota Jambi, Ika Noor Hidayati menyampaikan kesulitan yang dihadapi adalah komunikasi antara atlet dan pelatih karena pelatih bukan seorang disabilitas.

“Tidak semua pelatih bisa bahasa isyarat. Terkadang kita punya bahasa isyarat ala-ala kita sendiri yang penting bisa dipahami atlet,” katanya.

Untuk PON Papua ada 7 atlet dan saat ini ada di Pelatda.

Bagi disabilitas yang ingin menjadi atlet tidak ada persyaratan khusus yang terpenting seseorang itu memiliki keinginan untuk maju. Setelahnya melengkapi administrasi seperti biodata, foto 3x4 agar bisa dapat kartu tanda anggota.(*/Yen)