Meningkatkan Literasi di Kalangan Masyarakat Jambi

By Maas, SH 12 Sep 2021, 17:03:29 WIB Ekonomi
Meningkatkan Literasi di Kalangan Masyarakat Jambi

Keterangan Gambar : Nopriansyah, SST, MSi (Statistisi BPS Provinsi Jambi)


Hasil Susenas Maret 2020 menggambarkan persentase penduduk Jambi usia 15 tahun keatas yang mampu membaca dan menulis sebesar 98,19 persen. Ini artinya hanya 1,81 persen saja penduduk Jambi yang masih buta huruf. Dibandingkan dengan provinsi-provinsi di Pulau Sumatera, Jambi menduduki peringkat ke-7 satu tingkat di bawah Provinsi Aceh yang angka melek hurufnya mencapai 98,25 persen.

Angka melek huruf Jambi ini juga masih lebih tinggi jika dibandingkan dengan angka melek huruf Indonesia yang hanya mencapai angka 96,00. Artinya kemampuan baca tulis Jambi sudah lebih baik dari kemampuan penduduk Indonesia secara umum, secara tidak langsung juga menggambarkan kondisi pendidikan di Jambi.

Dalam kurun waktu 5 tahun terakhir, angka melek huruf Jambi menunjukkan peningkatan walaupun memang kenaikannya tidak terlalu tinggi yaitu meningkat 0,18 persen, dari sebelumnya 98,01 persen (tahun 2016) dan sekarang menjadi 98,19 persen. Peningkatan yang kecil ini disebabkan penghitungan angka melek huruf masih memasukkan kemampuan baca tulis para lansia yang memang kondisinya sulit untuk dirubah. 

Sebenarnya jika dilihat hanya untuk kelompok umur 15-24 tahun, maka angka melek huruf Jambi sudah mencapai 99,92 persen, sudah sangat tinggi. Ini artinya anak-anak muda hampir semuanya sudah bisa membaca dan menulis, sisanya bisa dikarenakan kondisi pemuda tersebut yang memang mengalami disabilitas dan belum tersentuh pendidikan luar biasa. 

Sekarang yang menjadi pertanyaan adalah apakah dengan angka melek huruf tersebut sudah menggambarkan tingkat literasi kita? Rupanya belum, tingginya persentase kemampuan membaca dan menulis ini belum menggambarkan benar tentang angka literasi di Provinsi Jambi. Literasi sendiri menurut Wien Muldian, Ketua Perkumpulan Literasi Indonesia adalah kemampuan untuk mengakses, memahami, mengelola, dan menggunakan pengetahuan serta informasi yang dipilih secara cerdas. Hal ini disampaikannya pada webinar bertajuk sarasehan literasi sekolah ke-8.
Menurut Najeela Shihab, Praktisi sekaligus Ketua Kampus Guru Cikal, ada sejumlah miskonsepsi tentang literasi penyebab rendahnya nilai literasi di Indonesia, salah satunya adalah literasi bukan hanya kemampuan membaca, tetapi juga kemampuan menalar.

 Literasi berkaitan dengan kompetensi berpikir dan memproses informasi. Sehingga bukan sekadar keterampilan membaca apalagi mengeja. Seseorang dengan tingkat literasi tinggi, mempunyai kemampuan penalaran dan pemecahan masalah dalam berbagai bidang, termasuk dalam sains, numerasi juga finansial.

Nah sekarang bagaimana dengan kondisi literasi di Jambi? memang secara pasti belum ada penetapan berapa persen tingkat literasi di Provinsi Jambi tapi dengan pendekatan hasil pendataan Susenas modul sosial budaya dan pendidikatan (MSBP) tahun 2018 sedikit banyak dapat menggambarkan tingkat literasi di Provinsi Jambi.

Dari data Susenas MSBP, dimana yang menjadi fokusnya adalah siswa di Jambi, terlihat minat bacanya masih kurang, di luar buku pelajaran sekolah yang memang wajib untuk dibaca. Koran yang merupakan sumber informasi harian, yang menyajikan berita terkini, hanya dibaca oleh 10,96 persen siswa di Jambi dalam seminggu terakhir, secara nasional angkanya 11,65 persen. Siswa yang membaca majalah/tabloid bahkan lebih kecil lagi, di angka 5,41 persen saja. Kemudian siswa yang pernah membaca buku cerita ada 28,95 persen, dan 57,40 persen pernah membaca buku pengetahuan. Semua referensi waktunya dalam seminggu terakhir. Bayangkan jika siswa saja minat bacanya masih kurang, bagaimana dengan masyarakat biasa, pekerja, pedagang, ibu-ibu rumah tangga, dan bagian masyarakat lainnya, sudah bisa ditebak, angkanya akan lebih rendah.

Hasil penelitian UNESCO pada 2016 menunjukkan bahwa kebiasaan membaca orang Indonesia tergolong rendah. Studi yang berjudul “The World’s Most Literate Nations” menyebutkan kalau Indonesia berada di peringkat ke-60 dari 61 negara. Hal ini sejalan juga dengan hasil survei yang dilakukan oleh Program for International Student Assesment yang dirilis Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) pada 2019. Indonesia menempati ranking 62 dari 70 negara berdasarkan tingkat literasinya.

Sebenarnya ada beberapa hal yang menyebabkan rendahnya minat baca masyarakat Provinsi Jambi, pertama akses terhadap bacaan yang masih kurang. Seperti kita ketahui Provinsi Jambi mempunyai wilayah yang luas, dari ujung jabung sampai gunung kerinci, mempunyai kondisi dan kesulitan geografis yang berbeda-beda. Perpustakaan daerah yang lengkap biasanya berada di ibukota kabupaten/kota, sehingga sangat sulit untuk masyarakat yang di pedalaman untuk menjangkaunya. Sedangkan perpustakaan-perpustakaan di sekolah-sekolah pun masih minim koleksi.

Kedua, koleksi perpustakaan yang masih kurang. Sering kita lihat kondisi-kondisi perpustakaan yang ada, baik di sekolah, instansi pemerintah ataupun perpustakaan daerah, koleksi buku masih minim dan keluaran tahun lama. Hal ini tentu saja ini dapat menurunkan minat baca dari pengunjung setelah melihat koleksi buku yang kurang menarik.
Ketiga, belum tumbuhnya kesadaran dari orang tua akan manfaat banyak membaca sejak dini. Memang masa kanak-kanak merupakan masa untuk bermain bersama teman-temannya, akan tetapi perlu juga ditanamkan kepada anak-anak bahwa membaca itu juga sangat penting. Perlu ada keseimbangan. Buku adalah jendela dunia, dengan banyak membaca, akan membuka wawasan anak-anak, dan tentunya itu menjadi bekal mereka di masa depan.

Keempat, penggunaan gawai. Orang tua sekarang lebih suka membelikan anaknya sebuah gawai daripada membelikan sebuah buku pengetahuan. Hal ini juga dikarenakan pandemi yang mengharuskan siswa belajar secara daring. Penggunaan gawai yang berlebihan seperti untuk bermedsos, bermain game online, tentu saja menghabiskan waktu, dan tidak membuka ruang bagi mereka untuk membaca buku. Akhinya minat baca pun menjadi rendah.

Peran Pemerintah Dalam Meningkatkan Literasi

Untuk meningkatkan literasi masyarakat Jambi memang perlu campur tangan pemerintah di dalamnya. Adanya perpustakaan daerah baik di Provinsi Jambi dan di Kabupaten/kota menjadi tanda seriusnya pemerintah daerah dalam meningkatkan literasi masyarakat. Untuk menambah minat masyarakat, perpustakaan juga harus meningkatkan pelayanannya. Buku-buku yang menjadi koleksi harus terus diperbaharui, dan ditambah ragamnya.
Untuk mendekatkan perpustakaan kepada masyarakat, perpustakaan keliling pun perlu digalakkan kembali. Banyak masyarakat karena kesibukannya, tidak sempat lagi pergi ke perpustakaan. Dengan perpustakaan keliling, memudahkan masyarakat untuk membaca. Armada perpustakaan keliling pun harus diperbanyak, terutama titik-titik keramaian. Selain sekolah, kantor, taman-taman kota, perlu juga perpustakaan keliling ke pasar-pasar tradisional yang ramai akan pengunjung. Untuk masa pandemi seperti sekarang, perlu dilakukan prokes yang ketat.

TBM-TBM yang selama ini banyak tidak beroperasi, perlu diaktifkan kembali, terutama di tempat-tempat pelayanan umum. Pengunjung yang sedang menunggu antrian, dapat meluangkan waktunya untuk membaca buku, ataupun Koran yang terbit hari itu.

Perpustakaan digital yang sudah dibangun oleh pemerintah provinsi Jambi, maupun kabupaten/kota, perlu disosialisasikan dan dikenalkan kepada masyarakat. Aplikasi iPustakaJambi yang dibangun oleh Pemprov Jambi dan aplikasi iKotaJambi yang dibangun oleh Pemkot Jambi sudah sangat bagus dan sangat mudah diakses. Pengguna hanya cukup registrasi, maka mereka pun langsung bisa meminjam buku. 

Dari amatan kami, aplikasi perpustakaan digital baik iPustakaJambi dan iKotaJambi masih sepi pengunjung, terlihat dari jumlah pembaca setiap buku yang masih rendah, bahkan masih banyak buku yang belum ada pembaca. Ini menandakan bahwa masyarakat masih banyak yang belum tahu. Disinilah pentingnya sosialisasi yang gencar untuk memperkenalkan aplikasi yang sangat bagus ini. Di masa pandemi, perpustakaan digital menjadi alternatif masyarakat untuk mencari informasi, begitu pula bagi pelajar dan mahasiswa.
Semoga dengan kesadaran seluruh masyarakat, dorongan Pemerintah Provinsi Jambi dan juga Pemerintah Kabupaten/Kota, tingkat literasi Jambi akan terus meningkat. Dan kedepannya dapat membawa kemajuan bagi Provinsi Jambi. Salam.(****)